Sabtu, 24 November 2012

MAKALAH AGAMA KONSEP KETUHANAN


Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana telah memberikan kami semua kekuatan serta kelancaran dalam menyelesaikan makalah mata kuliah Pendidikan Agama yang berjudul “Konsep Ketuhanan dalam Islam dan Pemikiran Ilmu Kalam” dapat selesai seperti waktu yang telah ditentukan.

Tersusunnya makalah ini tentunya tidak lepas dari peran serta berbagai pihak yang telah memberikan bantuan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih dan semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang membalas budi baik yang tulus dan ihklas kepada semua pihak.

Tak ada gading yang tak retak, untuk itu kamipun menyadari bahwa makalah yang telah kami susun dan kami kemas masih memiliki banyak kelemahan serta kekurangan-kekurangan baik dari segi teknis maupun non-teknis. Untuk itu penulis membuka pintu yang selebar-lebarnya kepada semua pihak agar dapat memberikan saran dan kritik yang membangun demi penyempurnaan penulisan-penulisan mendatang. Dan apabila di dalam makalah ini terdapat hal-hal yang dianggap tidak berkenan di hati pembaca mohon dimaafkan.

Jakarta, 13 September 2012
 Penulis 

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Manusia selalu mencari kebenaran yang hakiki. Konsep ketuhanan bagi manusia adalah kebenaran yang mutlak. Di dalam pencarian akan Tuhan manusia melakukan penyelidikan dan mencari dasar-dasar yang menjadi konsep Tuhan itu. Mungkin konsep ketuhanan sudah ada pada agama karena agama didasari pada keyakinan.
Dalam suatu agama, konsep ketuhanan sangatlah penting untuk memberikan argumen tentang konsep-konsep ketuhanannya agar dapat memberikan sebuah penjelasan logis dan meyakinkan para pemeluk agama tentang kebenaran dan keberadaan Tuhan itu sendiri.
Pembuktian wujud tuhan seorang islam atau pembuktian wujud Allah sangatlah susah karena tidak ada yang pernah dan bisa melihat Allah tapi hal yang harus kita ketahui bahwa manusia tidak mungkin bisa ada tanpa pencipta, dunia dan alam ini tidak mungkin bisa ada tanpa pencipta.Tidak mungkin semua hal itu bisa ada tanpa adanya sang pencipta. Dan penciptanya itu adalah Allah. Manusia, hewan, dan alam ini adalah akibat sedangkan akibatnya adalah Allah SWT.
1.2     Rumusan Masalah
1.      Seperti apakah konsep ketuhanan dalam islam ?
2.      Bagaimana sejarah pemikiran manusia tentang Tuhan ?
3.      Apakah yang dimaksud Ilmu Kalam beserta sejarahnya ?
4.      Bagaimana Tuhan menurut pendapat agama-agama ?
5.      Bagaimana pembuktian wujud tuhan?
1.3    Tujuan
1.      Mengetahui konsep ketuhanan dalam islam
2.      Mengetahui sejarah pemikiran manusia tentang Tuhan
3.      Mengetahui definisi Ilmu kalam dan sejarahnya
4.      Mengetahui pembuktian wujud tuhan dalam islam

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Siapakah Tuhan itu ?
Perkataan Ilah, yang selalu diterjemahkan “Tuhan”, dalam Al Qur’an dipakai untuk menyatakan berbagai objek yang dipentingkan oleh manusia, misalnya dalam surat al Furqan ayat 43.
“terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya ?”
Dalam surat al Qashash ayat 38, perkataan ilah dipakai oelh Fir’aun untuk dirinya sendiri :
Dan Fir’aun berkata : ‘wahai para pembesar hambaku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku.”
Contoh ayat ayat tersebut menunjukkan bahwa perkataan Ilah bisa mengandung arti berbagai benda baik abstrak (nafsu atau keinginan pribadi) dan benda nyata (Fir’aun atau penguasa yang dipatuhi). Berdasarkan logika al Qur’an, definisi Tuhan sebagai sesuatu yang dipentingkan manusia sedemikian rupa sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai olehnya. Berdasarkan definisi tersebut, Tuhan bisa berbentuk apa saja yang dipentingkan oleh manusia, manusia pasti memiliki sesuatu yang dipertuhankannya.
Dalam ajaran Islam diajarkan kalimat “ Laa illaha illaa Allah “. Susunan kalimat tersebut dimulai dengan peniadaan, yaitu “ tidak ada Tuhan “, kemudian baru diikuti dengan suatu penegasan “ melainkan Allah “. Hal itu berarti bahwa seorang muslim harus membersihkan dari segala macam Tuhan terlebih dahulu, yang ada dalam hatinya hanya ada satu Tuhan yang bernama Allah.
2.2  Sejarah Pemikiran Manusia tentang Tuhan
1.      Pemikiran Barat
Konsep ketuhanan menurut pemikiran manusia adalah konsep yang didasarkan atas hasil pemikiran baik melalui pengalaman lahir maupun batin dan bersifat penelitian rasional maupun pengalaman batin. Terdapat pula teori evolusionisme, yaitu teori yang menyatakan adanya proses dari kepercayaan yang amat sederhana meningkat menjadi sempurna. Teori ini dikemukakan oleh Max Muller dan EB Taylor dan beberapa ahli lainnya. Perkembangannya menurut teori evolusionisme sebagai berikut:
a.      Dinamisme
Manusia sejak zaman primitif mengakui adanya kekuatan yang berpengaruh dalam kehidupan yang ditunjukkan kepada benda. Setiap benda ada yang berpengaruh positif maupun negatif.

b.      Animisme
Masyarakat primitif juga mempercayai adanya peran roh dalam hidupnya. Setiap benda dianggap baik dan memiliki roh. Roh dianggap sesuatu yang aktif sekalipun bendanya mati. Agar manusia tidak terkena efek negatif dari roh-roh tersebut, maka manusia harus menyediakan kebutuhan roh seperti saji-sajian.

c.       Politeisme
Roh yang lebih dari yang lain lama-kelamaan kemudian disebut dewa. Dewa memiliki kekuasaan tertentu sesuai bidangnya.

d.      Henoteisme
Satu bangsa hanya mengakui satu dewa yang disebut dengan Tuhan, namun manusia masih mengakui Tuhan (Ilah) bangsa lain. Kepercayaan satu Tuhan untuk satu Bangsa disebut Tuhan Tingkat Nasional (Henoteisme).

e.      Monoteisme
Dalam monoteisme hanya mengakui satu Tuhan untuk seluruh bangsa dan bersifat internasional. Monoteisme ditinjau dari filsafat Ketuhanan terbagi dalam tiga paham yaitu : deisme, panteisme, dan teisme.

Teori evolusionisme ditentang oleh Andrew Lang (1898) dan lama-kelamaan menjadi reda sebaliknya muncul sarjana-sarjana agama di Eropa Barat yang memperkenalkan teori baru tentang sejarah agama. Mereka menyatakan bahwa Tuhan tidak datang secara evolusi tetapi dengan relevansi atau wahyu. Kepercayaan manusia primitif adalah monoteisme dan monoteisme berasal dari wahyu ajaran Tuhan.

2.      Pemikiran Umat Islam
Secara garis besar, pemikiran terhadap Tuhan memiliki aliran yang bersifat liberal, tradisional maupun keduanya. Ketiga corak pemikiran ini mewarnai sejarah pemikiran ilmu ketuhanan dalam Islam. Di antara aliran tersebut adalah :
a.       Mu’tazilah yaitu kaum rasionalis di kalangan muslim yang menekankan pemakaian akal pikiran dalam memahami ajaran dan keimanan dalam Islam. Orang Islam yang berbuat dosa besar, berada di posisi antara mukmin dan kafir.
Dalam menganalisis ketuhanan, mereka memakai bantuan ilmu logika Yunani, satu sistem teologi untuk mempertahankan kedudukan keimanan. Hasil dari paham Mu’tazilah yang bercorak rasional ialah muncul abad kemajuan ilmu pengetahuan dalam Islam. Mu’tazilah lahir sebagai pecahan dari kelompok Qadariah, sedang Qadariah adalah pecahan dari Khawarij.

b.      Qodariah yang berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan dalam berbuat termasuk ia ingin kafir atau mukmin dai ia yang harus mempertanggung jawabkannya.

c.       Jabariah merupakan pecahan dari Murji’ah berteori bahawa manusia tidak memiliki kemerdekaan dalam berbuat. Semua tingkah laku manusia dipaksakan oleh Tuhan.

d.      Asy’ariyah dan Maturidiyah yang pendapatnya di antara Qadariah dan Jabariah.

2.3  Tuhan Menurut Agama-agama Wahyu
Tuhan adalah sesuatu yang gaib. Informasi tentang Tuhan hanya berasal dari manusia biarpun dinyatakan sebagai hasil renungan maupun pemikiran rasional, tidak akan benar.
Informasi tentang asal-usul kepercayaan terhadap Tuhan antara lain :
·        Al Anbiya 92 menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan konsep tentang ajaran Ketuhanan sejak zaman dulu hingga sekarang yaitu konsep Tauhid. Jika terjadi perbedaan ajaran tentang Ketuhanan di antara agama-adalah karena perbuatan manusia. Ajaran yang tidak sama tersebut merupakan manipulasi dan kebohongan manusia yang teramat besar.
·        Al Maidah 72 menjelaskan bahwa diharamkan bagi mereka yang mempersekutukan Allah dan tempat mereka adalah neraka.
·        Al Ikhlas 1-4 menjelaskan bahwa Allah Maha Esa. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak seorangpun yang setara dengan Dia.
Dari penjelasan ayat-ayat di atas, maka sebutan yang benar bagi Tuhan yang benar-benar Tuhan adalah “Allah” dan kemahaesaan Allah tidak melalui teori evolusi melainkan melalui wahyu yang datang dari Allah. Keesaan Allah adalah mutlak. Sebagai umat Islam, kalimat syahadat La ilaaha illa Allah sebagai prioritas utama dengan menempatkan Allah dalam setiap perbuatan dan ucapan.
Konsep kalimat syahadat tersebut memberi manusia kecenderungan untuk mencari Tuhan lain selain Allah dan hal itu akan kelihatan dalam sikap dan praktik dalam kehidupan.
2.4  Pembuktian Wujud Tuhan
1.      Metode Pembuktian Ilmiah
Metode ini mengenal hakikat melalui percobaan dan pengamatan, sedang akidah agama berhubungan dengan alam di luar indera yang tidak mungkin dilakukan percobaan tetapi agama didasarkan pada analogi dan induksi. Agama tidak memiliki landasan ilmiah. Agama tidak berarti “iman kepada yang ghaib “ dan ilmu pengetahuan adalah percaya kepada “pengamatan ilmiah”. Sebab agama dan ilmu pengetahuan keduanya berlandaskan pada keimanan pada yang ghaib, hanya saja ruang lingkupnya yang berbeda. Sebenarnya apa yang disebut iman kepada yang ghaib oleh orang mukmin adalah iman kepada hakikat yang tidak diamati.
2.      Keberadaan Alam Membuktikan Adanya Tuhan
Alam semesta dan organisasi yang berada di dalamnya serta rahasia peliknya tentunya memberikan penjelasan bahwa ada sesuatu kekuatan yang telah menciptakannya dan tidak ada batasnya. Jika percaya tentang eksistensi alam, maka secara logika harus pencaya adanya pencipta alam. Belum pernah diketahui adanya sesuatu yang berasal dari tidak ada tanpa diciptakan.

3.      Pembuktian Adanya Tuhan dengan Pendekatan Fisika
Hukum Termodinamika membuktikan bahwa adanya alam tidak mungkin bersifat azali (menciptakan dirinya sendiri). Hukum tersebut menjelaskan bahwa proses kimia dan fisika di alam terus berlangsung. Jika alam ini azali maka sejak dulu alam sudah kehilangan energinya, sesuai dengan hukum tersebut dan tidak akan ada lagi kehidupan di alam ini. Oleh karena itu pasti ada yang menciptakan alam yaitu Tuhan.

4.      Pembuktian Adanya Tuhan dengan Pendekatan Astronomi
Jika kita memperhatikan  sistem tata surya yang luar biasa dan begitu teliti, tentunya akan timbul kesimpulan bahwa tidak mungkin semuanya ini terjadi dengan sendirinya, tetapi ada kekuatan maha besar yang mengendalikan sistem yang luar biasa tersebut yaitu Tuhan. Pembuktian melalui pemahaman keserasian alam, oleh Ibnu Rusyd diberi istilah “Dalil Ikhtira”. Ibnu Rusyd juga menggunakan metode lain yaitu “Dalil Inayah” yaitu metode pembuktian adanya Tuhan melalui pemahaman dan penghayatan manfaat alam bagi kehidupan manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar