MAKALAH AGAMA KEIMANAN&KETAKWAAN


2.1      Definisi Iman dan taqwa

2.1.1   Pengertian Iman
Kebanyakan orang menyatakan bahwa kata iman berasal dari kata kerja amina-ya’manu-amanan yang berarti percaya. Oleh karena itu, iman yang berarti percaya menunjuk sikap batin yang terletak di dalam hati. Dalam hadits diriwayatkan Ibnu Majah Attabrani, iman didefinisikan dengan keyakinan dalam hati, diikrarkan dengan lisan, yang diwujudkan dengan amal perbuatan. Dengan demikian, iman merupakan kesatuan atau keselarasan antara hati, ucapan, dan perbuatan serta dapat juga dikatakan sebagai pandangan dan gaya hidup.

Istilah iman dalam Al-Qur’an selalu dirangkaikan dengan kata lain yang memberikan corak dan warna tentang sesuatu yang imani seperti dalam surat An-Nisa ayat 51 yang dikaitkan dengan Jibti (kebatinan/idealisme). Kata iman yang tidak dirangkaikan dengan kata lain dalam Al-Qur’an mengandung arti positif. Dengan demikian, kata iman yang tidak dikaitkan dengan kata Allah atau dengan ajaran-Nya, dikatakan sebagai iman haq. Sedangkan yang dikaitkan dengan selainnya disebut iman bathil.

2.1.2   Pengertian Takwa 

Kata takwa (التَّقْوَى) dalam etimologi bahasa Arab berasal dari kata kerja (وَقَى) yang memiliki pengertian menutupi, menjaga, berhati-hati dan berlindung. Oleh karena itu imam Al Ashfahani menyatakan: Takwa adalah menjadikan jiwa berada dalam perlindungan dari sesuatu yang ditakuti, kemudian rasa takut juga dinamakan takwa. Sehingga takwa dalam istilah syar’i adalah menjaga diri dari perbuatan dosa. Takwa adalah amalan hati dan letaknya di kalbu. “Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar – syiar Allah maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS 22:32).

Keimanan dan ketakwaan seorang muslim adalah kunci agar mendapatkan ridho dan barokah dari Allah SWT. Iman Islam dalam diri seorang muslim harus dibarengi dengan takwa. Bila seorang muslim percaya dengan keberadaan Allah, maka tentunya ia takut kepada Allah. Itulah yang dinamakan takwa. Taqwa / takwa ,yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala 
perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan   
takut saja. Adapun arti lain dari taqwa adalah:
1.      Melaksanakan segala perintah Allah
2.      Menjauhkan diri dari segala yang dilarang Allah (haram)
3.      Ridho (menerima dan ikhlas) dengan hukum-hukum dan ketentuan Allah
2.1.3        Wujud Iman
Aqidah Islam dalam Al-Qu’an disebut iman. Aqidah islam adalah bagian yang paling pokok dalam islam. Aqidah islam atau iman mengikat seorang muslim sehingga dia terikat dengan segala aturan hukum yang datang dari Islam. Oleh karena itu menjadi seorang muslim berarti meyakini dengan sepenuh hati dan melaksanakan sesuatu yang diatur segala dalam ajaran Islam.

2.2           Proses Terbentuknya Iman
Benih iman yang dibawa sejak dalam kandungan memerlukan pemupukan yang berkesinambungan. Benih yang unggul apabila tidak disertai pemeliharaan yang intensif, besar kemungkinan menjadi punah. Demikian pula halnya dengan benih iman, berbagai pengaruh seseorang akan mengarahkan iman atau kepribadian seseorang. Pengaruh pendidikan keluarga secara langsung maupun tidak langsung, baik yang disengaja maupun tidak berpengaruh terhadap iman seseorang.

Pada dasarnya, proses pembentukkan iman memiiki beberapan prinsip dengan mengemukakan implikasi metodologiknya:
1)      Prinsip Pembinaan Berkesinambungan
Implikasinya ialah diperlukan motivasi sejak kecil dan berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu, penting mengarahkan prose motivasi, agar dapat membuat tingkah laku lebih terarah.
2)      Prinsip Internalisasi dan Individuasi
Implikasi metodologiknya ialah bahwa pendekatan untuk membentuk tingkah laku yang mewujudkan nilai iman tidak mengutamakan nilai dalam bentuk jadi, tetapi juga harus mementingkan proses dan cara pengenalan nilai hidup tersebut dari sudut anak didik.
3)      Prinsip Sosialisasi
Usaha pembentukkan tingkah laku mewujudkan nilai iman hendaknya tidak diukur keberhasilannya terbatas pada tingkat individual (yaitu dengan memperhatikan kemampuan seseorang dalam kedudukannya sebagai individu), tetapi perlu mengutamakan penilaian dalam kehidupan interaksi sosial (proses sosialisasi) orang tersebut.
4)      Prinsip Konsistensi dan Koherensi
Usaha yang dikembangkan untuk mempercepat tumbuhnya tingkah laku yang mewujudkan nilai iman hendaknya selalu konsisten dan koheren. Setiap langkah yang dahulu akan mendukung dan memperkuat langkah berikutnya. Pendekatan ini diharapkan dapat membuat proses pembentukan tingkah laku berlangsung lancar dan cepat, karena kerangka pola tingkah laku sudah tercipta.
5)      Prinsip Integrasi
Nilai iman hendaknya dapat dipelajari seseorang tidak sebagai ilmu dan keterampilan tingkah laku yang terpisah-pisah, tetapi melalui pendekatan yang integratif, dalam kaitan problematik kehidupan yang nyata.

2.3      Tanda-Tanda Orang Beriman

Al-Qur’an menjelaskan tanda-tanda orang yang beriman sebagai berikut :
1.      Jika disebut nama Allah, maka hatinya bergetar dan berusaha agar ilmu Allah tidak lepas dari syaraf memorinya, serta jika dibacakan ayat Al-Qur’an, maka bergejolak hatinya untuk segera melaksanakannya (Al Anfal : 2). Dia akan berusaha memahami ayat yang tidak dia pahami sebelumnya.
2.      Memelihara amanah dan menempati janji (Al-Mukminun : 6). Seorang mukmin tidak akan berkhianat dan dia akan selalu memegang amanah dan menepati janji.
3.      Tidak meninggalkan pertemuan sebelum meminta izin (An-Nur : 62). Sikap seperti itu merupakan salah satu sikap hidup seorang mukmin, orang yang berpandangan dengan ajaran Allah dan Sunnah Rasul.

Abu A’la Maududi menyebutkan tanda orang beriman sebagai berikut :
1.         Menjauhkan diri dari pandangan yang sempit dan picik
2.         Memiliki kepercayaan terhadap diri sendiri dan tahu harga diri.
3.         Memiliki sifat rendah hati dan khidmat
4.         Senantiasa jujur dan adil
5.         Tidak bersifat murung dan putus asa dalam menghadapi setiap persoalan dan situasi
6.         Memiliki pendirian yang teguh, kesabaran, ketabahan, dan optimisme
7.         Memiliki sifat ksatria, semangat, dan berani, tidak gentar menghadapi resiko, bahkan tidak takut kepada maut.
8.         Memiliki sikap hidup damai dan ridha.
9.         Patuh, taat, dan disiplin menjalankan peraturan Ilahi.
Tauhid praktis disebut juga tauhid ibadah, berhubungan dengan amal ibadah manusia. Tauhid praktis merupakan terapan dari tauhid teoritis. Kalimat Laa ilaaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah) lebih menekankan pengertian tauhid praktis (tauhid ibadah). Tauhid ibadah adalah ketaatan hanya kepada Allah.
Dengan demikian bertauhid mengesakan Tuhan dalam pengertian yakin dan percaya kepada Allah melalui fikiran, membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan.

2.4      Implementasi Iman dan Takwa

2.4.1        Problematika, tantangan, dan resiko dalam kehidupan modern
Berbicara tentang masalah sosial budaya berarti berbicara tentang masalah alam pikiran dan realitas hidup masyarakat. Alam pikiran bangsa Indonesia adalah majemuk (pluralistik), sehingga pergaulan hidupnya selalu dipenuhi oleh konflik baik sesama orang Islam maupun orang Islam dengan non-Islam.

Secara ekonomi bangsa Indonesia semakin tambah terpuruk. Hal ini karena diadopsinya sistem kapitalisme dan melahirkan korupsi besar-besaran. Sedangkan di bidang politik, muncul konflik di antara partai dan semakin jauhnya anggota parlemen dengan nilai Al-Qur’an, karena pragmatis dan oportunis.

Di bidang sosial muncul masalah berbagai tindakan kriminal dan pelanggaran HAM. Lebih memprihatinkan lagi adalah tindakan penyalahgunaan narkoba oleh anak sekolah, mahasiswa dan masyarakat. Persoalan muncul karena wawasan ilmunya salah, sedang ilmu merupakan roh yang menggerakkan dan mewarnai budaya. Untuk membebaskan bangsa Indonesia dari berbagai persoalan di atas, perlu diadakan revolusi pandangan. Dalam kaitan ini, iman dan takwa yang dapat berperan menyelesaikan problema dan tantangan kehidupan modern tersebut.

2.4.2        Peran Iman dan Takwa dalam Menjawab Problema dan   
                   Tantangan  Kehidupan Modern

Berikut dikemukakan beberapa pokok manfaat dan pengaruh iman pada kehidupan manusia :
a.         Iman melenyapkan kepercayaan pada kekuasaan benda
Orang yang beriman hanya percaya pada kekuatan dan kekuasaan Allah. Kalau Allah hendak memberikan pertolongan, maka tidak ada satu kekuatan pun yang dapat mencegahnya.
b.         Iman menanamkan semangat berani menghadapi maut
Orang yang beriman yakin sepenuhnya bahwa kematian di tangan Allah. Pegangan orang beriman mengenai soal hidup dan mati adalah firman Allah :
Di mana saja kamu berada, kematian akan datang mendapatkan kamu kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh (An Nisa’ 4 : 78)
c.         Iman menanamkan sikap self help dalam kehidupan
Rezeki atau mata pencaharian memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Banyak orang yang melepaskan pendiriannya, karena kepentingan penghidupannya.
d.         Iman memberikan ketentraman jiwa
Seorang yang beriman tidak pernah ragu pada keyakinannya terhadap Qadla dan Qadar. Dia mengetahui dan meyakini seyakin-yakinnya bahwa Qadla dan Qadar Allah telah tertulis di dalam kitab. Orang mukmin mengetahui bahwa mati adalah satu kepastian. Oleh sebab itu dia tidak takut menghadapi kematian. Keberanian selalu mendampingi hati seorang mukmin.
e.         Iman mewujudkan kehidupan yang baik (hayatan tayyibah)
Kehidupan manusia yang baik adalah kehidupan orang yang selalu melakukan kebaikan dan mengerjakan perbuatan yang baik.
f.          Iman melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen
Iman memberi pengaruh pada seseorang untuk selalu berbuat dengan ikhlas, tanpa pamrih, kecuali keridaan Allah. Orang yang beriman senantiasa konsekuen dengan apa yang telah diikrarkannya, baik dengan lidahnya maupun dengan hatinya.
g.         Iman memberikan keberuntungan
Orang yang beriman selalu berjalan pada arah yang benar, karena Allah membimbing dan mengarahkan pada tujuan hidup yang hakiki.
h.         Iman mencegah penyakit
Akhlak, tingkah laku, perbuatan fisik seorang mukmin, atau fungsi biologis tubuh manusia mukmin dipengaruhi oleh iman. Iman mampu mengatur hormon dan selanjutnya membentuk gerak, tingkah laku, dan akhlak manusia.
Jika karena pengaruh tanggapan, baik indera maupun akal, terjadi perubahan fisiologis tubuh (keseimbangan hormon terganggu), seperti takut, marah, putus asa, dan lemah, maka keadaan ini dapat dinormalisir kembali oleh iman.

Demikianlah pengaruh dan manfaat iman pada kehidupan manusia, ia bukan hanya sekedar kepercayaan yang berada dalam hati, tetapi menjadi kekuatan yang mendorong dan membentuk sikap dan perilaku hidup.

2.5    Fungsi Akal dan Wahyu Dalam Mengenal Tuhan,
    Kewajiban Beribadah Kepada Tuhan Baik dan Buruk, dan     
    Kewajiban Berbuat Baik dan Meninggalkan Yang Buruk

2.5.1   Pengertian Akal
Kata akal sudah menjadi kata Indonesia, berasal dari kata Arab al-‘Aql (العـقـل), yang dalam bentuk kata benda. Al-Qur’an hanya membawa bentuk kata kerjanya ‘aqaluuh dalam 1 ayat, 24 ayat, na’qil 1 ayat, ya’qiluha 1 ayat dan ya’qiluun 22 ayat, kata-kata itu datang dalam arti faham dan mengerti. Maka dapat diambil arti bahwa akal adalah peralatan manusia yang memiliki fungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuanya sangat luas.

2.5.2         Fungsi Akal
1.         Tolak ukur akan kebenaran dan kebatilan.
2.         Alat untuk mencerna berbagai hal dan cara tingkah laku yang benar.
3.         Alat penemu solusi ketika permasalahan datang.
Dan masih banyak lagi fungsi akal, karena hakikat dari akal adalah sebagai mesin penggerak dalam tubuh yang mengatur dalam berbagai hal yang akan dilakukan setiap manusia yang akan meninjau baik, buruk dan akibatnya dari hal yang akan dikerjakan tersebut. Dan  Akal adalah jalan untuk memperoleh iman sejati, iman tidaklah sempurna kalau tidak didasarkan akal iman harus berdasar pada keyakinan, bukan pada pendapat dan akalah yang menjadi sumber keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa.

2.5.3        Kekuatan Akal
1.         Mengetahui Tuhan dan sifat-sifat-Nya.
2.         Mengetahui adanya kehidupan di akhirat.
3.         Mengetahui bahwa kebahagian jiwa di akhirat bergantung pada mengenal tuhan dan berbuat baik, sedang kesngsaran tergantung pada tidak mengenal tuhan dan pada perbuatan jahat.
4.         Mengetahui wajibnya manusia mengenal Tuhan.
5.         Mengetahui kewajiban berbuat baik  dan kewajiban pula menjauhi perbuatan jahat untuk kebahagiannya di akhirat.
6.         Membuat hukum-hukum yang membantu dalam melaksanakan kewajiban tersebut.

2.5.4    Pengertian Wahyu
Kata wahyu berasal dari kata arab الوحي, dan al-wahy adalah kata asli Arab dan bukan pinjaman dari bahasa asing, yang berarti suara, api, dan kecepatan. Dan ketika Al-Wahyu berbentuk masdar memiliki dua arti yaitu tersembunyi dan cepat. oleh sebab itu wahyu sering disebut sebuah pemberitahuan tersembunyi dan cepat kepada seseorang yang terpilih tanpa seorangpun yang mengetahuinya. Sedangkan ketika berbentuk maf’ul wahyu Allah terhadap Nabi-Nya ini sering disebut Kalam Allah yang diberikan kepada Nabi

Menurut Muhammad Abduh dalam Risalatut Tauhid berpendapat bahwa wahyu adalah pengetahuan yang di dapatkan oleh seseorang dalam dirinya sendiri disertai keyakinan bahwa semua itu datang dari Allah SWT, baik melalui perantara maupun tanpa perantara. Baik menjelma seperti suara yang masuk dalam telinga ataupun lainya.

2.5.5      Fungsi wahyu    
Wahyu berfungsi memberi informasi bagi manusia. Yang dimaksud memberi informasi disini yaitu wahyu memberi tahu manusia, bagaimana cara berterima kasih kepada Tuhan, menyempurnakan akal tentang mana yang baik dan yang buruk, serta menjelaskan perincian upah dan hukuman yang akan di terima manusia di akhirat.

Sebenarnya wahyu secara tidak langsung adalah senjata yang diberikan Allah kepadaNabi-Nya untuk melindungi diri dan pengikutnya dari ancaman orang-orang yang tak menyukai keberadaanya. Dan sebagai bukti bahwa beliau adalah utusan sang pencipta yaitu Allah SWT.

2.5.6          Kekuatan wahyu
1.             Wahyu ada karena ijin dari Allah, atau wahyu ada karena pemberian Allah.
2.             Wahyu lebih condong melalui dua mukjizat yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
3.             Membuat suatu keyakinan pada diri manusia.
4.             Untuk memberi keyakinan yang penuh pada hati tentang adanya alam ghaib.
5.             Wahyu turun melalui para ucapan nabi-nabi.

Kewajiban Beribadah Kepada Tuhan Baik Dan Buruk
Ibadah artinya menghambakan diri, tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Ibadah mengandung pengertian yang luas, yaitu seluruh ketaatan dan kesetiaan terhadap hukum dan undang-undang Allah SWT, baik ketaatan lahir maupun batin. Ibadah terbagi menjadi 2 macam, ada Ibadah Mahdah dan Ibadah Ghairu Mahdah.

Ibadah Mahdah yaitu ibadah yang sudah ditentukan baik waktu, ukuran maupun caranya. Misalnya sholat, zakat, puasa, haji, dan lain-lain. Sedangkan Ibadah Ghairu Mahdah adalah ibadah yang tidak ditentukan waktu dan ukuran kadarnya. Misalnya shadaqah, membaca Al-Quran, menolong orang yang dalam keadaan duka, dan lain-lain. Sehingga tidak ada sisi kehidupan manusia yang tidak bernilai. Ibadah Islam adalah satu-satunya agama yang menegaskan bahwa bekerja adalah ibadah karena seluruh aspek kehidupan manusia harus benilai ibadah.

Pada Surah Al-Dzariat ayat 56  Allah telah menjelaskan yang artinya :
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT tidak menjadikan jin dan manusia kecuali untuk tunduk kepada-Nya dan untuk merendahkan diri. Maka, setiap makhluk baik jin maupun manusia wajib tunduk kepada peraturan Allah, merendahkan diri terhadap kehendak-Nya, dan menerima apa yang ditakdirkan-Nya. Dalam menyembah Allah, harus ikhlas, tidak dibuat-buat, jujur dan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam melaksanakan agama secara lurus, yaitu jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan kesesatan.

Kewajiban Berbuat baik dan meninggalkan yang buruk
Dalam agama islam telah ditetapkan bahwa islam adalah agama rahmatan lil alamin, agama yang penuh kasih sayang. Hal ini seperti yang telah diajarkan Nabi Muhammad SAW dan yang telah di wahyukan oleh Allah SWT adanya pengaturan yang berhubungan dengan Tuhan yaitu Hablum minallah, dengan manusia Hablum minannas, serta dengan keberadaan alam semesta Hablum minal a'lam...

Tak lepas dari konteks tersebut, tentang rahmatan lil alamin
agama islam juga mewajibkan setiap mukmin atau muslim yang sebagaiman telah diatur dalam Al-Quran,Yaitu ada 7 kewajiban seorang muslim :
1.             Menjawab salam : menjawab salam mempunyai hukum yang wajib karena kita telah didoakan keselamatan bagi orang yang telah memberikan salam.
2.             Menjenguk orang sakit : menjenguk orang sakit adalah bagian atau salah satu hal yang dapat dilakukan untuk saling memberi semangat sekaligus mengingatkan bahwa menjaga jasmani adalah sebagian dari iman.
3.             Memberikan maaf : Allah swt adalah maha dari segala maha untuk itu manusia yang hanya sebuah jentikan buih yang ada dilaut ataupun debu yang ada di udara ada baiknya dengan lapang dan ikhlas dapat memaafkan atas kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang lain terhadap diri kita.
4.             Menyambung Silahturahmi : menyambung silahturahmi adalah sebagian dari cara yang dilakukan Nabi Muhammad SAW untuk melakukan penyebaran agama islam. Dan silahturahmi itu pula yang mengikat segala peradaban yang ada dimuka bumi ini untuk saling mendoakan dan menguatkan sesama muslim.
5.             Berbuat baik : berbuat baik kepada sesama muslim ataupun orang yang tidak baik kepada diri kita merupakan kewajiban yang diatur dalam al-quran karena manusia adalah makhluk sosial yang diciptakan oleh Allah SWT untuk saling membutuhkan.
6.             Menjawab doa orang yang sedang bersin : Hal ini bahkan dilakukan pula oleh setiap malaikat apabila mendengar ataupun melihat seseorang yang sedang bersin dan membaca Hamdallah setelahnya maka wajib hukumnya bagi yang mendengar untuk menjawab Yarhamukallah / killah dan dijawab kembali dengan Yahdikumullah / kumillah bagi yang telah bersin.
7.             Mendoakan sesama muslim
2.6   Peran Akal Dalam Mengembangkan Pemikiran Agama
Agama Islam sangat menjunjung tinggi kedudukan akal. Sebagai risalah Ilahiyyahterakhir, Islam mempersyaratkan kewajiban menjalankan agama bagi orang yang berakal.Artinya, orang yang hilang akalnya tidak diwajibkan mengerjakan perintah atau menjauhilarangan-Nya. Dengan akal manusia mampu memahami Al-Qur’an sebagai wahyu yangditurunkan lewat Nabi Muhammad SAW, dengannya juga manusia mampu menelaahkembali sejarah Islam dari masa lampau. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, permasalahan yang dihadapi umat Islamsemakin kompleks. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah-masalah yang belum adatuntunan penyelesaiannya baik dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah, maka muncullah jalan ketiga yakni ijtihad.

           Ijtihad adalah upaya yang dilakukan guna mencapai pengetahuan tentang ajaran Nabi Muhammad SAW dengan tujuan mengikuti ajaran beliau di samping mengaitkan permasalahan-permasalahan baru ke dalam kaidah yangtelah disimpulkan dari Al-Qur’an dan Hadits. Dalam ajaran agama yang diwahyukan ada dua jalan untuk memperoleh pengetahuan, yaitu melalui akal dan wahyu.
           
            Akal adalah anugerah yang diberikan AllahSWT yang mempunyai kemampuan untuk berpikir, memahami, merenungkan, danmemutuskan. Sedangkan wahyu adalah penyampaian sabda Allah SWT kepada orang yang menjadi pilihannya untuk diteruskan kepada umat manusia sebagai pegangan dan panduan hidupnya agar dalam perjalanan hidupnya senantiasa pada jalur yang benar.
           
            Akal dan wahyu mempunyai peran yang sangat penting dalam perjalanan hidup manusia. Wahyu diturunkan Allah SWT kepada manusia yang berakal sebagai petunjuk mengarungi lika-liku kehidupan di dunia ini. Akal tidak serta merta mampu memahamiwahyu Allah SWT, adalah panca indera manusia yang menyertainya untuk dapatmemahami wahyu yang diturunkan Allah SWT.

Dengan demikian, ada hubungan yangerat antara wahyu sebagai kebenaran yang mutlak karena berasal dari Allah SWT dengan perjalanan hidup manusia. Salah seorang Tokoh yang membicarakan masalah akal dan wahyu adalah QuraishShihab, dalam bukunya Logika Agama : Kedudukan Wahyu dan Batas-Batas akal dalam Islam. Di sini terlihat jelas bahwa Quraish Shihab mengakui penting peranan akal dalam memahami agama/wahyu, namun di sisi lain akal juga memiliki keterbatasan. Sebagian ajaran agama memang dapat dimengerti oleh akal, tetapi tidak sedikit yang masih menyimpan misteri kalau kita pikirkan.

Komentar