Postingan

Kau Baik-Baik Saja

Kau kehilangan (lagi), waktu menjadi antagonis yang bisa kau salahkan. Kau percaya ia sedang tersesat dan akan kembali-kali ini-. Atau kau lupa, kau memang bukan tujuannya. Kau memilih menunggu. Tidak tahu malu. Sebenarnya kau hanya bmbang- bertahan atau melepaskan- sebab kerja hatimu telah terbiasa menangkap harapan hingga lupa dengan logikamu. Jika kau temukan dirimu menahan sesak, menangis pukul tiga pagi karena riuh kepalamu, harusnya kau sadar sudah saatnya kau pergi. Tubuhmu ingin kau mengerti bahwa ia tak akan kembali. Pertemuan itu tidak pernah menjadikanmu sebagai pulangnya, kepergian yang kau tangisi itu memang tidak bertujuan untuk kembali. Kau tidak harus selalu bahagia. Tidak semua dapat kau baca termasuk perpisahan. Abu-abu di matamu biarkanlah mengalir membawa sesal dan andai. Kau biarkan kalimat menggantung di mulutmu, sebab matamu menyaksikan airmata yang jatuh lebih dulu. Tidak ada yang harus pergi lebih awal. Kau sedang tidak balapan siapa yang paling cepat me...

Aku di Jakarta

Sore itu di kedai kopi tempat biasa kita bertemu. Kau duduk di situ, di depanmu seorang perempuan dengan rambut bergelombang, berkacamata, dan tertawa. Pun dirimu. Entah apa yang membuatku tersenyum melihatmu. Kau tidak begitu, dulu, ketika bersamaku. Perempuan itu memanggil pelayan untuk menambah segelas kopi lagi. Kalian sama. Dan aku? bahkan pernah memintamu berhenti. Rasanya akan sia-sia sapaan dariku, meski kau seringkali berkata, "kabari aku jika di Jakarta". Aku memperhatikanmu, dari meja yang paling jauh mendekati pintu. Aku masih sama, dan kau tidak. Masa depan sudah ada di tanganmu, tepatnya di hadapanmu sekarang ini. Aku tahu dari caramu menatapnya, dulu juga begitu, tapi aku lebih sering mengalihkan pandangan. Kau mendengarnya bercerita, sesekali jemarimu menyentuh punggung tangannya. Tidak jauh dari tangan kirinya terlihat sebuah alkitab yang membuatku bergumam,  "kau sudah menemukan yang sepantasnya". Aku memesan kopi kesukaanmu, hanya saja...

Pamit

Maaf, beberapa hari yang lalu sempat meracau yang mungkin membuatmu kaget karena rutinitas dan rindu yang tak sudah-sudah membuat semuanya terjadi secara tiba-tiba. Kamu bisa protes, bisa saja, semua orang punya rutinitas dan masalah tapi tidak perlu sampai mengganggu kenyamanan orang lain seperti yang saya lakukan. Saya bisa saja bertahan lebih lama lagi, bisa saja, atau membiarkan semua hilang tanpa harus izin dan berpamitan. Sayangnya, saya tidak terbiasa mengumpulkan gengsi, sukarela menyiksa diri sendiri, menerkan-nerka kehidupanmu di sana. Saya menyukai kamu. Tidak persis begitu yang saya katakan, lebih tepatnya memberi tahu bahwa kemarin saya menyukai kamu dan sekarang saya ingin berhenti, walaupun mungkin di kemudian hari saya masih tidak bisa melupakan, setidaknya kamu tahu saya menyukaimu, pernah. Saya hanya ingin kamu tahu, bahkan tanpa bertanya bagaimana perasaanmu. Bagi saya tidak perlu. Saya tidak sedang mencari kepastian apakah yang saya utarakan berbalas atau tid...

Sabarrr

Pertanyaannya adalah apakah dia sesabar aku dalam mencintaimu? Kamu itu galak lho, Mas. Kamu itu keras kepala, ngeyel , apa-apa maunya kamu yang dipenuhi. Kamu galak aku nurut, kamu yang salah aku yang minta maaf, kamu capek aku yang nyemangatin, kamu berhenti aku terus dorong kamu, terus sekarang kamu sudah bisa bangkit dan berdiri sendiri malah mau lari dengan yang lain. Aku enggak masalah kalau kamu mau dengan dia, tapi seenggaknya kamu harus jujur sama diri sendiri apa dia sesabar aku? Aku bukan Nabi, sabarku ada batasnya. Iya. Memang itu alasan. Sabar tidak ada batasnya, yang ada hanya seseorang yang memilih untuk berhenti bersabar. Ya. Aku memang memilih untuk tidak lagi bersabar sama kamu, Mas. Untuk apa? Kamu tidak pernah melihat kesabaranku. Kamu selalu mencari dalam diri seseorang yang bukan aku. Tidak masalah jika kamu memang benar-benar inginkan dia, tapi pastikan dia sesabar aku atau mungkin lebih sabar dariku. Mencintaimu itu butuh kesabaran, karena kamu sendiri t...

Berharap

Tidak bisa diam-diam saja Sebab dia masih ada Sebab aku bukan sebuah sembunyi Sebab mataku tak pernah malu-malu Dan dia tahu. Tidak bisa menunggu saja Tidak bisa juga berkata-kata Bersuara Di depannya Karena dia tahu. Satu pun tidak pernah Keluar dari bibirnya Pun diriku Kelu Lalu pilu. Aku memaksa Padahal Dia sudah tahu Inginku Lebih dari itu. Suatu waktu Aku bertanya Hatimu Apa sama denganku? Jawabmu, "aku tidak tahu". Jika bingung Mungkin kita mulai sama Aku bertambah Kau mulai tumbuh -rasa- Terinsipirasi dari Ikvinia Nur Fatimah "Empat tahun memang bukan waktu yang sebentar. Terserah mau menyerah atau tidak. Yang jelas sabarmu itu akan ada gantinya".

Kata-Kata Yang Tidak Kau Dengar

Gambar
Pict. We Heart It Sebab memandangmu dari kejauhan adalah kebahagiaanku. Sebab aku selalu mengagumi gerak-gerik bibirmu mengikuti kata satu per satu. Pun jari telunjukmu menyusuri satu per satu kalimat yang ingin kutahu. Seringkali tanpa sadar aku menutup mulut sebab penuh dengan tawa gemas melihatmu membenarkan letak kacamata, tentu dari jarak yang tidak kau tahu. Sesekali kau tersenyum, aku ingin menjadi buku yang kau baca meski memang segala tentangku selalu mudah untukmu. Aku tidak mengerti, kenapa aku begitu sederhana? Begitu mudah jatuh padamu meski kau tidak seberjuang itu. Aku ingin melihatmu jatuh cinta, entah pada apa atau siapa. Aku ingin melihatmu tersesat pada apa-apa yang kau suka, menangkap ekspresimu dalam banyak rupa. Sesekali, aku ingin melihat apa kau memiliki rona yang sama saat kita berjumpa. Tak apa, toh aku bukan apa-apa yang selalu kau doakan pada sujudmu pukul dua. Pun tak mengapa jika pada akhirnya aku bukan siapa-siapa sebab dilema tak memberiku jaw...

Jauh

Gambar
Tidak ada lagi percakapan yang menghangatkan di balik selimut malam, juga tidak ada lagi percakapan yang mengetuk jendela sebagai pengantar sarapan sebelum mengecup rutinitas tanpamu di pagi hari. Kalaupun ada, percakapan hanya untuk menyakiti. Tidak ada lagi lengan-lengan setia untuk setiap pelukan, yang direntangkan dengan senyuman untuk mengawali aktivitas yang selalu melahirkan rindu yang tak sudah-sudah. Tidak ada lagi dekap erat dariku yang selalu mengingatkan bahwa kau kuat dalam pekat sebab aku menemukanmu dalam gelap. Kalaupun ada, pelukan hanya kau berikan sebagai pengantar perpisahan. Tidak mudah rasanya menjadi seorang yang menyimpan kenangan sedang kau tak pernah berpikir bahwa kita pernah ada dalam sebuah perjalanan. Aku ingin pulang ke rengkuhmu saat hati ini tidak baik-baik saja. Sebab selalu begitu saat pikiranku dilema, kau biarkan lengan-lengan setia menyambut lelah dan airmata. Dulu. Apa sekarang masih bisa? Bolehkah? Kau pernah berkata hidup haruslah terus...