laskar pelangi

Bab 1

PAGI itu, waktu aku masih kecil, aku dan ayahku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas. Sebatang pohon filicium tua yang riang meneduhiku. Orangtua dan anak-anaknya juga duduk berderet-deret di bangku panjang lain didepan kami. Hari itu adalah hari pertamaku masuk SD.
Di mulut pintu berdiri dua orang guru seperti para penyambut tamu dalam perhelatan. Mereka adalah Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala sekolah dan seorang wanita muda berjilbab, Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus. Adapun sekolah ini, SD Muhammadiyah, sekolah kampung yang paling miskin di Belitong. Tidak seperti suasana di SD lain yang penuh kegembiraan ketika menerima murid angkatan baru, suasana hari pertama di SD Muhammadiyah penuh dengan kerisauan, dan yang paling risau adalah Bu Mus dan Pak Harfan. Guru-guru yang sederhana ini berada dalam situasi genting karena Pengawas Sekolah dari Depdikbud Sumsel telah memperingatkan bahwa jika SD Muhammadiyah hanya mendapat murid baru kurang dari sepuluh orang maka sekolah paling tua di Belitong ini harus ditutup.
Tahun lalu SD Muhammadiyah hanya mendapatkan sebelas siswa, dan tahun ini Pak Harfan pesimis dapat memenuhi target sepuluh. “Kita tunggu sampai pukul sebelas,” kata Pak Harfan pada Bu Mus dan seluruh orangtua yang telah pasrah. Suasana hening. Akhirnya, waktu habis karena telah pukul sebelas lewat lima dan jumlah murid tak juga genap sepuluh. Semangat besarku untuk sekolah perlahan-lahan runtuh. Pak Harfan berdiri di depan para orangtua. Beliau bersiap-siap memberikan pidato terakhir. Wajahnya tampak putus asa. Namun ketika beliau akan mengucapkan kata pertama Assalamu’alaikum seluruh hadirin terperanjat karena Tripani berteriak sambil menunjuk ke pinggir lapangan rumput luas halaman sekolah itu. “Harun!”
Pria itu adalah Harun, pria jenaka sahabat kami yang sudah berusia lima belas tahun dan agak terbelakang mentalnya. Ia sangat gembira dan berjalan cepat setengah berlari tak sabar menghampiri kami. Pak Harfan tersenyum, beliau melirik Bu Mus sambil mengangkat bahunya.
“Genap sepuluh orang …,” katanya.

Bab 2
Ibu Muslimah yang beberapa menit lalu sembap, gelisah, dan coreng-moreng kini menjelma menjadi sekuntum Crinum giganteum. Sekarang dengan ceria beliau mengatur tempat duduk kami. Semua telah masuk ke dalam kelas, telah mendapatkan teman sebangkunya masing-masing, kecuali aku dan anak laki-laki kecil kotor berambut keriting merah yang tak kukenal tadi. Ia tak bisa tenang. Anak ini berbau hangus seperti karet terbakar. “Anak Pak Cik akan sebangku dengan Lintang,” kata Bu Mus pada ayahku. Oh, itulah rupanya namanya, Lintang, sebuah nama yang aneh.
Lintang akan duduk di samping pria kecil berambut ikal yaitu aku, dan ia akan sekolah di sini lalu pulang pergi setiap hari naik sepeda sejauh 80 kilometer. Keluarga Lintang berasal dari Tanjong Kelumpang, desa nun jauh di pinggir laut. Menuju ke sana harus melewati tempat berawa-rawa yang dianggap seram di kampung kami. Selain itu di sana juga tak jarang buaya sebesar pangkal pohon sagu melintasi jalan. Kampung pesisir itu secara geografis dapat dikatakan sebagai wilayah paling timur di Sumatra, daerah minus nun jauh masuk ke pedalaman Pulau Belitong.
Bagiku pagi itu adalah pagi yang tak terlupakan sampai puluhan tahun mendatang karena pagi itu aku melihat Lintang dengan canggung menggenggam sebuah pensil besar yang belum diserut seperti memegang sebilah belati. Hal yang tak akan pernah ku lupakan adalah bahwa pagi itu aku menyaksikan seorang anak pesisir melarat—teman sebangku—untuk pertama kalinya memegang pensil dan buku, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya, setiap apa pun yang ditulisnya merupakan buah pikiran yang gilang gemilang, karena nanti ia—seorang anak miskin pesisir—akan menerangi nebula yang melingkupi sekolah miskin ini sebab ia akan berkembang menjadi manusia paling genius yang pernah kujumpai seumur hidupku.

Bab 3

Sekolah kami adalah salah satu dari ratusan atau mungkin ribuan sekolah miskin di seantero negeri ini yang jika disenggol sedikit saja oleh kambing yang senewen ingin kawin, bisa rubuh berantakan.
Kami memiliki enam kelas kecil-kecil, pagi untuk SD Muhammadiyah dan sore untuk SMP Muhammadiyah. Kami kekurangan guru dan sebagian besar siswa SD Muhammadiyah ke sekolah memakai sandal. Kami bahkan tak punya seragam. Sekolah kami tidak dijaga karena tidak ada benda berharga yang layak dicuri. Satu-satunya benda yang menandakan bangunan itu sekolah adalah sebatang tiang bendera dari bambu kuning dan sebuah papan tulis hijau yang tergantung miring di dekat lonceng. Lonceng kami adalah besi bulat berlubang-lubang bekas tungku. Di papan tulis itu terpampang gambar matahari dengan garis-garis sinar berwarna putih. Di tengahnya tertulis:
SD MD
Sekolah Dasar Muhammadiyah
Pada intinya tak ada yang baru dalam pembicaraan tentang sekolah yang atapnya bocor, berdinding papan, berlantai tanah, atau yang kalau malam dipakai untuk menyimpan ternak, semua itu telah dialami oleh sekolah kami. Lebih menarik membicarakan tentang orang-orang seperti apa yang rela menghabiskan hidupnya bertahan di sekolah semacam ini. Orang-orang itu tentu saja kepala sekolah kami PakK.A. Harfan Efendy Noor bin K.A. Fadillah Zein Noor dan Ibu N.A. Muslimah HafsariHamid binti K.A. Abdul Hamid.
Pak Harfan, seperti halnya sekolah ini, tak susah digambarkan. Kumisnya tebal, cabangnya tersambung pada jenggot lebat berwarna kecokelatan yang kusam dan beruban. Hemat kata, wajahnya mirip Tom Hanks, tapi hanya Tom Hanks di dalam film di mana ia terdampar di sebuah pulau sepi, tujuh belas bulan tidak pernah bertemu manusia dan mulai berbicara dengan sebuah bola voli. Pak Harfan telah puluhan tahun mengabdi di sekolah Muhammadiyah nyaris tanpa imbalan apa pun demi motif syiar Islam. Beliau menghidupi keluarga dari sebidang kebun palawija di pekarangan rumahnya.
Karena penampilan Pak Harfan agak seperti beruang madu maka ketika pertama kali melihatnya kami merasa takut. Anak kecil yang tak kuat mental bisa-bisa langsung terkena sawan. Namun, ketika beliau angkat bicara, tak dinyana, meluncurlah mutiara-mutiara nan puitis sebagai prolog penerimaan selamat datang penuh atmosfer sukacita disekolahnya yang sederhana. Kemudian dalam waktu yang amat singkat beliau telah merebut hati kami.
Pak Harfan tampak amat bahagia menghadapi murid, tipikal “guru” yang sesungguhnya, guru yang tak hanya mentransfer sebuah pelajaran, tapi juga yang secara pribadi menjadi sahabat dan pembimbing spiritual bagi muridnya.
Beliau memberi kami pelajaran pertama tentang keteguhan pendirian, tentang ketekunan, tentang keinginan kuat untuk mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan kami bahwa hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau menyampaikan sebuah prinsip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam dadaku serta memberi arah bagiku hingga dewasa, yaitu bahwa hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.
Kami tak berkedip menatap sang juru kisah yang ulung ini. Sayangnya bapak yang penuh daya tarik ini harus mohon diri. Satu jam dengannya terasa hanya satu menit. Kami mengikuti setiap inci langkahnya ketika meninggalkan kelas. Pandangan kami melekat tak lepas-lepas darinya karena kami telah jatuh cinta padanya. Maka berakhirlah perkenalan di bulan Februari yang mengesankan itu.

Bab 4

N.A. Muslimah Hafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid, atau kami memanggilnya Bu Mus, hanya memiliki selembar ijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri), namun beliau bertekad melanjutkan cita-cita ayahnya—K.A. Abdul Hamid, pelopor sekolah Muhammadiyah di Belitong—untuk terus mengobarkan pendidikan Islam.
BU MUS adalah seorang guru yang pandai, karismatik, dan memiliki pandangan jauh ke depan. Beliau mengajarkan kepada kami sejak dini pandangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum, keadilan,dan hak-hak asasi. Dasar-dasar moral itu menuntun kami membuat konstruksi imajiner nilai-nilai integritas pribadi dalam konteks Islam. Kami diajarkan menggali nilai luhur di dalam diri sendiri agar berperilaku baik karena kesadaran pribadi. Pada kesempatan lain, karena masih kecil tentu saja, kami sering mengeluh mengapa sekolah kami tak seperti sekolah-sekolah lain. Terutama atap sekolah yang bocor dan sangat menyusahkan saat musim hujan. Beliau tak menanggapi keluhan itu tapi mengeluarkan sebuah buku berbahasa Belanda dan memperlihatkan sebuah gambar. Gambar itu adalah sebuah ruangan yang sempit, dikelilingi tembok tebal yang suram, tinggi, gelap, dan berjeruji. Kesan di dalamnya begitu pengap, angker, penuh kekerasan dan kesedihan.
“inilah sel Pak Karno di sebuah penjara di Bandung, di sini beliau menjalani hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku. Beliau adalah salah satu orang tercerdas yang pernah dimiliki bangsa ini.” Beliau tak melanjutkan ceritanya.
Kami tersihir dalam senyap. Mulai saat itu kami tak pernah lagi memprotes keadaan sekolah kami. Sehari pun kami tak pernah bolos, dan kami tak pernah mengeluh, tidak, sedikit pun kami tak pernah mengeluh. Bagi kami Pak Harfan dan Bu Mus adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. Merekalah mentor, penjaga, sahabat, pengajar, dan guru spiritual. Merekayang pertama menjelaskan secara gamblang implikasi amar makruf nahi mungkarsebagai pegangan moral kami sepanjang hayat.
Mereka adalah ksatria tampa pamrih, pangeran keikhlasan, dan sumur jernih ilmupengetahuan di ladang yang ditinggalkan. Sumbangan mereka laksana manfaat yang diberikan pohon filicium yang menaungi atap kelas kami. Pohon ini meneduhi kami dan dialah saksi seluruh drama ini. Seperti guru-guru kami, filicium memberi napas kehidupan bagi ribuan organisme dan menjadi tonggak penting mata rantai ekosistem.

Bab 5

JUMLAH orang Tionghoa di kampung kami sekitar sepertiga dari total populasi. Meskipun jauh terpisah dari akar budayanya namun mereka senantiasa memelihara adat istiadatnya, dan di Belitong mereka beruntung karena mereka tak perlu jauh-jauh datang ke Jinchanying kalau hanya ingin melihat Tembok Besar Cina.
Persis bersebelahan dengan toko-toko kelontong milik warga Tionghoa ini berdiri tembok tinggi yang panjang dan di sana sini tergantung papan peringatan “DILARANGMASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK”. Namun, tidak seperti Temok Besar Cina yang melindungi berbagai dinasti dari sebuan suku-suku Mongol di utara, di Belitong tembok yang angkuh dan berkelak-kelok sepanjang kiloan meter ini adalah pengukuhan sebuah dominasi dan perbedaan status sosial.
Di balik tembok itu terlindung sebuah kawasan yang disebut Gedong, yaitu negeri asing yang jika berada di dalamnya orang akan merasa tak sedang berada di Belitong. Dan di dalam sana berdiri sekolah-sekolah PN. Sekolah PN adalah sebutan untuk sekolah milik PN (Perusahaan Negara) Timah, sebuah perusahaan yang paling berpengaruh di Belitong, bahkan sebuah hegemoni lebih tepatnya, karena timah adalah denyut nadi pulau kecil itu.
LAKSANA the Tower of Babel—yakni Menara Babel, metafora tangga menuju surga yang ditegakkan bangsa babylonia sebagai perlambang kemakmuran 5.600 tahun lalu, yang berdiri arogan di antara Sungai Tigris dan Eufrat di tanah yang sekarang disebut Irak—timah di Belitong adalah menara gading kemakmuran berkah Tuhan yang menjalar sepanjang Semenanjung Malaka, tak putus-putus seperti jalian urat di punggung tangan.
Belitong dalam batas kuasa eksklusif PN Timah adalah kota praja Konstantinopel yang makmur. PN adalah penguasa tunggal Pulau Belitung yang termasyhur di seluruh negeri sebagai Pulau Timah. Nama itu tercetak di setiap buku geografi atau buku Himpunan Pengetahuan Umum pustaka wajib sekolah dasar. PN amat kaya.
PN merupakan penghasil timah nasional terbesar yang mempekerjakan tak kurang dari 14.000 orang. Ia menyerap hampir seluruh angkatan kerja di Belitong dan menghasilkan devisa jutaan dolar. Lahan eksploiotasinya tak terbatas. Lahan itu disebut kuasa penambangan dan secara ketat dimonopoli. PN tidak hanya memonopoli faktor produksi terpenting tapi juga mewarisi mental bobrok feodalistis ala Belanda. Sementara seperti sering dialami oleh warga pribumi di mana punyang sumber daya alamnya dieksploitasi habis-habisan, sebagian komunitas di Belitong juga termarginalkan dalam ketidakadilan kompensasi tanah wilayah, persamaan kesempatan, dan trickle down effects.

Bab 6

PULAU Belitong yang makmur seperti mengasingkan diri dari tanah Sumatra yang membujur dan di sana mengalir kebudayaan Melayu yang tua. Pada abad ke-19, ketika korporasi secara sistematis mengeksploitasi timah, kebudayaan bersahaja itu mulai hidup dalam karakteristik sosiologi tertentu yang atribut-atributnya mencerminkan perbedaansangat mencolok seolah berdasarkan status berkasta-kasta. Salah satu atribut diskriminasi itu adalah sekolah-sekolah PN.
PN melimpahi orang staf dengan penghasilan dan fasilitas kesehatan, pendidikan, promosi, transportasi, hiburan, dan logistik yang sangat diskriminatif dibanding kompensasi yang diberikan kepada mereka yang bukan orang staf. Mereka, kaum borjuis ini, bersemayam di kawasan eksklusif yang disebut Gedong. Gedong lebih seperti sebuah kota satelit yang dijaga ketat oleh para Polsus (PolisiKhusus) Timah. Jika ada yang lancang masuk maka koboi-koboi tengik itu akan menginterogasi, lalu interogasi akan ditutup dengan mengingatkan sang tangkapan pada tulisan “DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK” yang bertaburan secara mencolok pada berbagai akses dan fasilitas di sana.
Kawasan warisan Belanda ini menjunjung tinggi kesan menjaga jarak, dan kesan itu diperkuat oleh jajaran pohon-pohon saga tua yang menjatuhkan butir-butir buah semerah darah di atas kap mobil-mobil mahal yang berjejal-jejal sampai keluar garasi. Disana, rumah-rumah mewah besar bergaya Victoria memiliki jendela kaca lebar dan tinggi dengan tirai yang berlapis-lapis laksana layar bioskop. Rumah-rumah itu ditempatkan pada kontur yang agak tinggi sehingga kelihatan seperti kastil kaum bangsawan dengan halaman terpelihara rapi dan danau danau buatan. Di dalamnya hidup tenteram sebuah keluarga kecil dengan dua atau tiga anak yang selalu tampak damai, temaram, dan sejuk.
Sore ini terdengar lamat-lamat denting piano dari salah satu kastil Victoria yang tertutup rapat berpilar-pilar itu. Floriana atau Flo yang tomboi, salah seorang siswa sekolah PN, sedang les piano. Guru privatnya sangat bersemangat tapi Flo sendiri terkantuk-kantuk tanpa minat.
Bapaknya—seorang Mollen Bas, kepala semua kapal keruk—duduk di sebuah kursi besar semacam singgasana sehingga tubuh kecilnya tenggelam. Ia geram pada tingkah si tomboi dan malu pada sang guru. Beliau tak henti-henti memohon maaf pada wanita Jawa yang sangat santun itu atas kelakuan anaknya. Bapak Flo adalah orang hebat, seseorang yang amat terpelajar. Ia adalah insinyur lulusan terbaik.
Sebagai Mollen Bas, beliau sanggup mengendalikan shift ribuan karyawan, memperbaiki kerusakan kapal keruk yang tenaga-tenaga ahli asing sendiri sudah menyerah, dan mengendalikan aset produksi miliaran dolar. Tapi menghadapi anak perempuan kecilnya, si tomboi gasing yang tak bisa diatur ini, beliau hampir menyerah. Pokok perkaranya sederhana, yakni beliau telah memiliki beberapa anak laki-laki dan Flo si bungsu, adalah anak perempuan satu-satunya. Namun anak perempuannya ini bersikeras ingin menjadi laki-laki. Flo tak suka menerima dirinya sebagai seorang perempuan. Mungkin karenapengharuh dari saudara-saudara kandungnya yang seluruhnya laki-laki.

Bab 7

TAK disangsikan, jika di-zoom out, kampung kami adalah kampung terkaya di Indonesia.
Namun jika di-zoom in, kekayaan itu terperangkap di satu tempat, ia tertimbun di dalam batas tembok-tembok tinggi Gedong. Di luar tembok feodal tadi berdirilah rumah-rumah kami, beberapa sekolahnegeri, dan satu sekolah kampung Muhammadiyah. Tak ada orang kaya di sana, yang adahanya kerumunan toko miskin di pasar tradisional dan rumah-rumah panggung yangrenta dalam berbagai ukuran.
Di antara rumah panggung itu berdesak-desakan kantor polisi, gudang-gudang logistik PN, kantor telepon, kantor camat, KUA, masjid, kantorpos, bangunan pemerintah—yang dibuat tanpa perencanaan yang masuk akal sehingga menjadi bangunan kosong telantar, tandon air, warung kopi, dan rumah gadai yang selalu dipenuhi pengunjung. Jalan raya di kampung ini panas menggelegak dan ingar-bingar oleh suara logam yang saling beradu ketika truk-truk reyot lalu-lalang membawa berbagai peralatan teknik eksplorasi timah. Kawasan kampung ini dapat disebut sebagai urban atau perkotaan. Umumnya tujuh macam profesi tumpang tindih di sini: kuli PN sebagai mayoritas, penjaga toko, pegawai negeri, pengangguran, pegawai kanotr desa, pedagang, dan pensiunan. Sepanjang waktu mereka hilir mudik dengan sepeda. Semuanya, para penduduk, kambing, entok, ayam, dan seluruh bangunan itu tampak berdebu, tak teratur,tak berseni, dan kusam.
DI luar lingkungan urban, berpencar menuju dua arah besar adalah wilayah rural atau pedesaan. Daerah ini memanjang dalam jarak puluhan kilometer menuju ke barat ibukota Kabupaten: Tanjong Pandan. Sebaliknya, ke arah selatan akan menelusuri jalur ke pedalaman.
Di sepanjang jalur pedesaan rumah penduduk berserakan, berhadap-hadapan dipisahkan oleh jalan raya. Orang-orang pedesaan ini hidup bersahaja, umumnya berkebun, mengambil hasil hutan, dan mendapat bonus musiman dari siklus buah-buahan, lebah madu, dan ikan air tawar. Kekuatan ekonomi Belitong dipimpin oleh orang staf PN dan para cukong swasta yang mengerjakan setiap konsesi eksploitasi timah. Mereka menempati strata tertinggi dalam lapisan yang sangat tipis.
Sisanya berada di lapisan terendah, jumlahnya banyak dan perbedaannya amat mencolok dibanding kelas di atasnya. Mereka adalah para pegawai kantor desa, karyawan rendahan PN, pencari madu dan nira, para pemain organ tunggal, para tenaga honorer Pemda, dan semua guru dan kepala sekolah—baik sekolah negeri maupun sekolah kampung—kecuali guru dan kepala sekolah PN.

Bab 8

SEKOLAH-SEKOLAH PN Timah, yaitu TK, SD, dan SMP PN berada dalam kawasan Gedong. Sekolah-sekolah ini berdiri megah dikelilingi pagar besi tinggi berulir melambangkan kedisiplinan dan mutu tinggi pendidikan. Sekolah PN merupakan center of excellence atau tempat bagi semua hal yang terbaik. Sekolah ini demikian kaya raya karena didukung sepenuhnya oleh PN Timah, sebuah korporasi yang kelebihan duit. Institusi pendidikan yang sangat modern ini lebih tepat disebut percontohan bagaimana seharusnya generasi muda dibina.
Gedung-gedung sekolah PN didesain dengan arsitektur yang tak kalah indahnya dengan rumah bergaya Victoria di sekitarnya. Di dalam kelas-kelas itu puluhan siswa brilian bersaing ketat dalam standar mutu yang sangat tinggi.
Murid PN umumnya anak-anak orang luar Belitong yang bapaknya menjadi petinggi di PN. Sekolah ini juga menerima anak kampung seperti Bang Amran, tapi tentu saja yang orangtuanya sudah menjadi orang staf. Mereka semua bersih-bersih, rapi, kaya, necis, dan pintar-pintar luar biasa. Mereka selalu mengharumkan nama Belitong dalam lomba-lomba kecerdasan, bahkan sampai tingkat nasional. Sekolah PN sering dikunjungi para pejabat, pengawas sekolah, atau sekolah lain untuk melakukan semacam benchmarking, melihat bagaimana seharusnya ilmu pengetahuan ditransfer dan bagaimana anak-anak kecil dididik secara ilmiah.
Pendaftaran hari pertama di sekolah PN adalah sebuah perayaan penuh sukacita. Puluhan mobil mewah berderet di depan sekolah dan ratusan anak orang kaya mendaftar. Setiap kelas bisa menampung hamper sebanyak 40 siswa dan paling tidak ada 4 kelas untuk setiap tingkat.
Ketika mendaftar badan mereka langsung diukur untuk tiga macam seragamharian dan dua macam pakaian olah raga. Sepatu yang dikenakan berhak dan berwarna hitam mengilat. Sangat gagah ketika ber-marching band melintasi kampung. Kepala sekolahnya adalah seorang pejabat penting, Ibu Frischa namanya. Ia seorang wanita keras yang terpelajar, progresif, ambisius, dan sering habis-habisan menghina sekolah kampung.
Yang dimaksud dengan sekolah kampung tentu saja adalah perguruan Muhammadiyah dan beberapa sekolah swasta miskin lainnya di Belitong. Selain sekolah miskin itu memang terdapat pula beberapa sekolah negeri di kampung kami. Namun kondisi sekolah negeri tentu lebih baik karena mereka disokong oleh negara. Sementara sekolah kampung adalah sekolah swadaya yang kelelahan menyokong dirinya sendiri.

Bab 9

AKU tak mengerti dari mana Borek mendapat sebuah pengetahuan rahasia untuk membesarkan otot dada. Samson, demikian julukannya sekarang, sangat terobsesi dengan body building dan tergila-gila dengan citra cowok  macho, dan pada suatu hari aku termakan hasutannya.
“Jangan bilang siapa-siapa …!” katanya berbisik. Lalu ia menarik tanganku, kami pun berlari menuju belakang sekolah, sembunyi di ruangan bekas gardu listrik. Dari dalam tasnya ia mengeluarkan sebuah bola tenis yang dibelah dua. Ia merangsek maju ke arahku dan dengan keras menekankan bola tenis itu ke dadaku. Aku terjajar ke belakang sampai hampir jatuh. Aku paham, belahan bola tenis ini dimaksudkan bekerja seperti sebuah alat bekam yang akan menarik otot sehingga menonjol dan bidang. Itu idenya. Sekarang tekanan tenaga Samson dan daya isap bola tenis itu mulai bereaksi menyiksaku.
Yang aku rasakan adalah seluruh isi dadaku: jantung, hati, paru-paru, limpa,berikut isi perut dan darahku seperti terisap oleh bola tenis itu. Bahkan mataku rasanya akan meloncat. Aku tercekat, tak sanggup mengeluarkan kata-kata. Aku memberi isyarat agar ia melepaskan pembekam itu.
Samson tak peduli, ia tetap menekan belahan bola tenis itu tanpa perasaan. Namun, pada detik paling gawat itu rupanya Tuhan menyelamatkanku karena tanpa diduga salah satu balok di belakangku jatuh sehingga sekarang aku memiliki ruang utnuk mengambil ancang-ancang. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, kuambil seluruh tenaga terakhir yang tersisa lalu dengan sekali jurus kutendang selangkang Samson. Samson melolong-lolong seperti kumbang terperangkap dalam stoples, lalu manusia Herucles itu pun tumbang berdebam di atas tanah. Di dadaku melingkar tanda bulat merah kehitam-hitaman, sebuah jejak kemahatololan.
Ketika ibuku bertanya tentang tanda itu aku tak berkutik, dengan amat sangat terpaksa kutelanjangi kebodohan kusendiri. Saat itulah untuk pertama kalinya aku mendengar teori canggih ibuku tentang penyakit gila. “Gila itu ada 44 macam,” kata ibuku seperti seorang psikiater ahli. “Semakin kecil nomornya semakin parah gilanya,” beliau menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatapku seeperti sedang menghadapi seorang pasien rumah sakit jiwa.
“Maka orang-orang yang sudah tidak berpakaian dan lupa diri di jalan-jalan,itulah gila no.1, dan gila yang kau buat dengan bola tenis itu sudah bisa masuk no. 5.Cukup serius! Hati-hati, kalau tak pakai akal sehat dalam setiap kelakuanmu maka angka itu bisa segera mengecil.”
Begitulah teori penyakit gila versi ibuku dan bagiku teori itu efektif. Aku malu sudah bertindak konyol.
PADA sebuah pagi yang lain, pukul sepuluh, seharusnya burung kut-kut sudah datang. Tapi pagi ini senyap. Aku tersenyum sendiri melamunkan sifat-sifat kawan sekelasku. Lalu aku memandangi guruku Bu Mus, seseorang yang bersedia menerimakami apa adanya dengan sepenuh hatinya, segenap jiwanya. Ia selalu membesarkan hati kami. Kupandangi juga sembilan teman sekelasku, orang-orang muda yang luar biasa.
Kami adalah sepuluh umpan nasib dan kami seumpama kerang-kerang halus yang melekat erat satu sama lain dihantam deburan ombak ilmu. Kami seperti anak-anak bebek. Tak terpisahkan dalam susah dan senang. Induknya adalah Bu Mus. Sekali lagi kulihat wajah mereka, Harun yang murah senyum, Trapani yang rupawan, Syahdan yang lilipu, Kucai yang sok gengsi, Sahara yang ketus, A Kiong yang polos, dan pria kedelapan—yaitu Samson—yang duduk seperti patung Ganesha.
Lalu siapa pria yang kesembilan dan kesepuluh? Lintang dan Mahar. Pelajaran apa yang mereka tawarkan? Mereka adalah pria-pria muda yang sangat istimewa. Memerlukan bab tersendiri untuk menceritakannya. Sampai di sini, aku sudah merasa menjadi seorang anak kecil yang sangat beruntung.

Bab 10
PAGI ini Lintang terlambat masuk kelas. Kami tercengang mendengar ceritanya.
“Aku tak bisa melintas. Seekor buaya sebesar pohon kelapa tak mau beranjak,menghalang di tengah jalan. Tak ada siapa-siapa yang bisa kumintai bantuan. Aku hanyaberdiri mematung, berbicara dengan diriku sendiri.”
Lima belas meter.
“Buaya sebesar itu tak ‘kan mampu menyerangku dalam jarak ini, ia lamban, pastikalah langkah. Kalau cukup waktu aku dapat menghitung hubungan massa, jarak, dantenaga, baik aku maupun buaya itu, sehingga aku dapat memperkirakan kecepatannyamenyambarku dan peluangku untuk lolos. Ilmu menyebabkan aku berani maju beberapalangkah lagi. Apalagi fisikia tidak mempertimbangkan psy war, kalau aku maju ia pastiakan terintimidasi dan masuk lagi ke dalam air.
“Aku maju sedikit, membunyikan lonceng sepeda, bertepuk tangan, berdeham-deham, membuat bunyi-bunyian agar dia merayap pergi. Tapi ia bergeming. Ukurannyadan teritip yang tumbuh di punggungnya memperlihatkan dia penguasa rawa ini. Dansekarang saatnya mandi matahari. Secara fisik dan psikologis binatang atau secara apapun, buaya ini akan menang. Ilmu tak berlaku di sini.
“Tapi lebih dari setengah perjalanan sudah, aku tak ‘kan kembali pulang gara-garabuaya bodoh ini. Tak adak ata bolos dalam kamusku, dan hari ini ada tarikh Islam, matapelajaran yang menarik. Ingin kudebatkan kisah ayat-ayat suci yang memastikankemenangan Byzantium tujuh tahun sebelum kejadian. Sudah siang, aku maju sedikit,aku pasti terlambat tiba di sekolah.”
Dua belas meter
“Aku hanya sendirian. Jika ada orang lain aku berani lebih frontal. Tahukahhewan ini pentingnya pendidikan? Aku tak berani lebih dekat. Ia menganga dan bersuararendah, suara dari perut yang menggetarkan seperti sendawa seekor singa atau sepertisuara orang menggeser sebuah lemari yang sangat besar. Aku diam menunggu. Tak adajalur alternatif dan kekuatan jelas tak berimbang. Aku mulai frustasi. Suasana sunyisenyap. Yang ada hanya aku, seekor buaya ganas yang egois, dan intaian maut.”
Kami prihatin dan tegang mendengar kisah perjuangan Lintang menuju sekolah.
“Tiba-tiba dari arah samping kudengar riak air. Aku terkejut dan takut.Menyeruak di antara lumut kumpai, membelah genangan setinggi dada, seorang laki-lakiseram naik dari rawa. Ia berjalan menghampiriku, kakinya bengkok seperti huruf O,”lanjutnya.
“Siapa laki-laki itu Lintang?” tanya Sahara tercekat.
“Bodenga ….”
“Ooh …,” kami serentak menutup mulut dengan tangan. Menakutkan sekali. Tak
ada yang berani berkomentar. Tegang menunggu kelanjutan cerita Lintang.
“Aku lebih takut padanya daripada buaya mana pun. Pria ini tak mau dikenal
orang tapi sepanjang pesisir Belitong Timur, siapa tak kenal dia?
“Dia melewatiku seperti aku tak ada dan dia melangkah tanpa ragu mendekatibinatang buas itu. Dia menyentuhnya! Menepuk-nepuk lembut kulitnya sambilmenggumamkan sesuatu. Ganjil sekali, buaya itu seperti takluk, mengibas-ngibaskanekornya laksana seekor anjing yang ingin mengambil hati tuannya, lalu mendadak sontak,dengan sebuah lompatan dahsyat seperti terbang reptil zaman Cretaceous itu terjun kerawa menimbulkan suara laksana tujuh pohon kelapa tumbang sekaligus.
Lintang menarik napas.
“Aku terkesima dan tadi telah salah hitung. Jika binatang purba itu mengejarkumaka orang-orang hanya akan menemukan sepeda reyot ini. Fisika sialan. Memprediksiperilaku hewan yang telah bertahan hidup jutaan tahun adalah tindakan bodoh nan sombong.
“Dari permukaan air yang bening jelas kulihat binatang itu menggoyangkan ekorpanjangnya untuk mengambil tenaga dorong sehingga badannya yang hidrodinamismenghujam mengerikan ke dasar air.
“bodenga berbalik ke arahku. Seperti selalu, ekspresinya dingin dan jelas takmenginginkan ucapan terima kasih. Kenyataannya aku tak berani menatapnya, naylikuruntuh. Dengan sekali sentak ia bisa menenggelamkanku sekaligus sepeda ini ke dalamrawa. Aku mengenal reputasi laki-laki liar ini. Tapi aku merasa beruntung karena akutelah menjadi segelintir orang yang pernah secara langsung menyaksikan kehebatan ilmubuaya Bodenga.”
AKU
termenung mendengar cerita Lintang. Aku memang tidak pernahmenyaksikan langsung Bodenga beraksi tapi aku mengenal Bodenga lebih dari Lintangmengenalnya. Bagiku Bodenga adalah guru firasat dan semua hal yang berhubungandengan perasaan gamang, pilu, dan sedih.
Tak seorang pun ingin menjadi sahabat Bodenga. Wajahnya carut-marut, berusiaempat puluhan. Ia menyelimuti dirinya dengan dahan-dahan kelapa dan tidur melingkarseperti tupai di bawah pohon nifah selama dua hari dua malam. Jika lapar ia terjun kesumur tua di kantor polisi lama, menyelam, menangkap belut yang terperangkap dibawah sana dan langsung memakannya ketika masih di dalam air.
Ia makhluk yang merdeka. Ia seperti angin. Ia bukan Melayu, bukan Tionghoa,dan bukan pula Sawang, bukan siapa-siapa. Tak ada yang tahu asal usulnya. Ia takmemiliki agama dan tak bsia bicara. Ia bukan pengemis bukan pula penjahat. Namanyatak terdaftar di kantor desa. Dan telinganya sudah tak bisa mendengar karena ia pernahmenyelami dasar Sungai Lenggang untuk mengambil bijih-bijih timah, demikian dalamhingga telinganya mengeluarkan darah, setelah itu menjadi tuli.
Bodenga kini sebatang kara. Satu-satunya ekluarga yang pernah diketahui orangadalah ayahnya yang buntung kaki kanannya. Orang bilang karena tumbal ilmu buaya.Ayahnya itu seorang dukun buaya terkenal. Serbuan Islam yang tak terbendung keseantero kampung membuat orang menjauhi mereka, karena mereka menolakmeninggalkan penyembahan buaya sebagai Tuhan.
Ayahnya telah mati karena melilit tubuhnya sendiri kuat-kuat dari mata kakisampai ke leher dengan akar jawi lalu menerjunkan diri ke Sungai Mirang. Ia sengajamengumpankan tubuhnya pada buaya-buaya ganas di sana. Masyarakat hanyamenemukan potongan kaki buntungnya. Kini Bodenga lebih banyak menghabiskan waktumemandangi aliran Sungai Mirang, sendirian sampai jauh malam.
Pada suatu sore warga kampung berduyun-duyun menuju lapangan basketSekolah Nasional. Karena baru saja ditangkap seekor buaya yang diyakini telahmenyambar seorang wanita yang sedang mencuci pakaian di Manggar. Karena aku masihkecil maka aku tak dapat menembus kerumunan orang yang mengelilingi buaya itu, akuhanya dapat melihatnya dari sela-sela kaki pengunjung yang rapat berselang-seling.Mulut buaya besar itu dibuka dan disangga dengan sepotong kayu bakar.
Ketika perutnya dibelah, ditemukan rambut, baju, jam tangan, dan kalung. Saatitulah aku melihat Bodenga mendesak maju di antara pengunjung. Lalu ia bersimpuh disamping sang buaya. Wajahnya pucat pasi. Ia memberi isyarat kepada orang-orang,memohon agar berhenti mencincang binatang itu. Orang-orang mundur dan melepaskankayu bakar yang menyangga mulut buaya tersebut. Mereka paham bahwa penganut ilmubuaya percaya jika mati mereka akan menjadi buaya. Dan mereka maklum bahwa bagiBodenga buaya ini adalah ayahnya karena salah satu kaki buaya ini buntung.
Bodenga menagnsi. Suaranya pedih memilukan.
“Baya … Baya … Baya …,” panggilnya lirih. Beberapa orang menangissesenggukan. Aku menyaksikan dari sela-sela kaki pengunjung air matanya mengalirmembasahi pipinya yang rusak berbintik-bintik hitam. Air mataku juga mengalir takmampu kutahan. Buaya ini satu-satunya cinta dalam hidupnya yang terbuang, dalamdunianya yang sunyi senyap.
Ia mengucapkan ratapan yang tak jelas dari mulutnya yang gagu. Ia mengikatsang buaya, membawanya ke sungai, menyeret bangkai ayahnya itu sepanjang pinggiransungai menuju ke muara. Bodenga tak pernah kembali lagi.
Bodenga dalam fragmen sore itu menciptakan cetak biru rasa belas kasihan dankesedihan di alam bawah sadarku. Mungkin aku masih terlalu kecil utnuk menyaksikantragedi sepedih itu. Ia mewakili sesuatu yang gelap di kepalaku. Pada tahun-tahunmendatang bayangannya sering mengunjungiku. Jika aku dihadapkan pada situasi yang
menyedihkan maka perlahan-lahan ia akan hadir, mewakili semua citra kepedihan didalam otakku. Maka sore itu sesungguhnya Bodenga telah mengajariku ilmu firasat. Iajuga yang pertama kali memeprlihatkan padaku bahwa nasib bisa memperlakukanmanusia dengan sangat buruk, dan cinta bisa menjadi demikian buta.
Lintang memang tak memiliki pengalaman emosional dengan Bodenga sepertiyang aku alami, tapi bukan baru sekali itu ia dihadang buaya dalam perjalanan kesekolah. Dapat dikatakan tak jarang Lintang mempertaruhkan nyawa demi menempuhpendidikan, namun tak sehari pun ia pernah bolos. Delapan puluh kilometer pulang pergiditempuhnya dengan sepeda setiap hari. Tak pernah mengeluh. Jika kegiatan sekolahberlangsung sampai sore, ia akan tiba malam hari di rumahnya. Sering aku merasa ngerimembayangkan perjalanannya.
Kesulitan itu belum termasuk jalan yang tergenang air, ban sepeda yang bocor,dan musim hujan berkepanjangan dengan petir yang menyambar-nyambar. Suatu harirantai sepedanya putus dan tak bisa disambung lagi karena sudah terlalu pendek sebabterlalu sering putus, tapi ia tak menyerah. Dituntunnya sepeda itu puluhan kilometer, dansampai di sekolah kami sudah bersiap-siap akan pulang. Saat itu adalah pelajaran senisuara dan dia begitu bahagia karena masih sempat menyanyikan lagu Padamu Negeri didepan kelas. Kami termenung mendengarkan ia bernyanyi dengan sepenuh jiwa, taktampak kelelahan di matanya yang berbinar jenaka. Setelah itu ia pulang denganmenuntun sepedanya lagi sejauh empat puluh kilometer.
Pada musim hujan lebat yang bisa mengubah jalan menjadi sungai, menggenangidaratan dengan air setinggi dada, membuat guruh dan halilintar membabat pohon kelapahingga tumbang bergelimpangan terbelah dua, pada musim panas yang begitu terikhingga alam memuai ingin meledak, pada musim badai yang membuat hasil laut nihilhingga berbulan-bulan semua orang tak punya uang sepeser pun, pada musim buayaberkembang biak sehingga mereka menjadi semakin ganas, pada musim angin baratputting beliung, pada musim demam, pada musim sampar—sehari pun Lintang takpernah bolos.
Dulu ayahnya pernah mengira putranya itu akan takluk pada minggu-minggupertama sekolah dan prasangka itu terbukti keliru. Hari demi hari semangat Lintangbukan semakin pudar tapi malah meroket karena ia sangat mencintai sekolah, mencintai
teman-temannya, menyukai persahabatan kami yang mengasyikkan, dan mulaikecanduan pada daya tarik rahasia-rahasia ilmu. Jika tiba di rumah ia tak langsungberistirahat melainkan segera bergabung degan anak-anak seusia di kampungnya untukbekerja sebagai kuli kopra. Itulah penghasilan sampingan keluarganya dan juga sebagaikompensasi terbebasnya dia dari pekerjaan di laut serta ganjaran yang ia dapat dari“kemewahan” bersekolah.
Ayahnya, yang seperti orangBushman itu, sekarang menganggap keputusanmenyekolahkan Lintang adalah keputusan yang tepat, paling tidak ia senang melihatsemangat anaknya menggelegak. Ia berharap suatu waktu di masa depan nanti Lintangmampu menyekolahkan lima orang adik-adiknya yang lahir setahun sekali sehinggaberderet-deret rapat seperti pagar, dan lebih dari itu ia berharap Lintang dapatmengeluarkan mereka dari lingkaran kemiskinan yang telah lama mengikat merekahingga sulit bernapas.
Maka ia sekuat tenaga mendukung pendidikan Lintang dengan cara-caranyasendiri, sejauh kemampuannya. Ketika kelas satu dulu pernah Lintang menanyakankepada ayahnya sebuah persoalan perkerjaan rumah kali-kalian sederhana dalam matapelajaran berhitung.
“Kemarilah Ayahanda … berapa empat kali empat?”
Ayahnya yang buta huruf hilir mudik. Memandang jauh ke laut luas melaluijendela, lalu ketika Lintang lengah ia diam-diam menyelinap keluar melalui pintubelakang. Ia meloncat dari rumah panggungnya dan tanpa diketahui Lintang ia berlarisekencang-kencangnya menerabas ilalang. Laki-laki cemara angin itu berlari pontang-panting sederas pelanduk untuk minta bantuan orang-orang di kantor desa. Lalu secepatkilat pula ia menyelinap ke dalam rumah dan tiba-tiba sudah berada di depan Lintang.
“Em … emm… empat belasss … bujangku … tak diragukan lagi empat belasss ..tak lebih tak kurang …,” jawab beliau sembari tersengal-sengal kehabisan napas tapi jugatersenyum lebar riang gembira. Lintang menatap mata ayahnya dalam-dalam, rasa ngilumenyelinap dalam hatinya yang masih belia, rasa ngilu yang mengikrarkan nazaraku
harus jadi manusia pintar, karena Lintang tahu jawaban itu bukan datang dari ayahnya.

Bab 18
BARU kali ini Mahar menjadi penata artistik karnaval, dan karnaval ini tidak main-main,inilah peristiwa besar yang sangat penting, karnaval 17 Agustus. Sebenarnya guru-gurukami agak pesimis karena alasan klasik, yaitu biaya. Kami demikian miskin sehingga takpernah punya cukup dana untuik membuat karnaval yang representatif. Para guru jugamerasa malu karena parade kami kumuh dan itu-itu saja. Namun, ada sedikit harapantahun ini. Harapan itu adalah Mahar.
Karnaval 17 Agustus sangat potensial untuk meningkatkan gengsi sekolah, sebabada penilaian serius di sana. Ada kategori busana terbaik, parade paling megah, pesertapaling serasi, dan yang paling bergengsi: penampil seni terbaik. Gengsi ini juga takterlepas dari integritas para juri yang dipimpin oleh seorang seniman senior yang sudahkondang, Mbah Suro namanya. Mbah Suro adalah orang Jawa, ia seniman Yogyakartayang hijrah ke Belitong karena idealisme berkeseniannya. Karena sangat idelais makatentu saja Mbah Suro juga sangat melarat.
Seperti telah diduga siapa pun, seluruh kategori—mulai dari juara pertama sampaijuara harapan ketiga—selalu diborong sekolah PN. Kadang-kadang sekolah negerimendapat satu dua sisa juara harapan. Sekolah kampung tak pernah mendapatpenghargaan apa pun karena memang tasmpil sangat apa adanya. Tak lebih daripenggembira.
Sekolah-sekolah negeri mampu menyewa pakaian adat lengkap sehingga tampilmemesona. Sekolah-sekolah PN lebih keren lagi. Parade mereka berlapis-lapis, palingpanjang, dan selalu berada di posisi paling strategis. Barisan terdepan adalah puluhansepeda keranjang baru yang dihias berwarna-warni. Bukan hanya sepedanya,pengendaranya pun dihias dengan pakaian lucu. Lonceng sepeda edibunyikan dengankeras bersama-sama, sungguh semarak.

Komentar