Untitled Page

tumblr_n2zna9PFMM1sbafcao1_500.jpg (441×248)

Kau tidak membiarkan kata-kata tenggelam dan terlepas. Kau malah menyeretku kepada sejumlah kata-kata yang kau selipkan di telapak tanganmu. Aku tidak mengerti, bahkan dengan aksara yang berkarat di ujung halaman yang kau lipat. Kau memaksaku memilih nila atau lila pada jingga pukul lima. Kau tak mengerti, ada banyak huruf yang tidak terbaca olehku. Kau mengabaikannya, mengabaikanku.

Aku tidak membacanya, tidak melihat cahaya yang kau paksakan ke dalam retinaku. Kau berjingkat-jingkat di keluasan pasir kertas yang menguning seiring pokok hidup yang terus mengendap dan menyelinap pada sampul buku kepunyaanNya. Kau tidak peduli, merentangkan tangan untuk menyeimbangkan udara dan egomu.

Senyummu tak mengenalku, lebih tajam dari ujung pena yang biasa kau gunakan untuk melukai halaman-halaman diarimu. Sekilas melihat tatapanmu, aku tahu ada seorang anak kecil terperangkap di sana. Itukah alasanmu tidak memberi nama untuk halaman yang kau tulis? Kau malah meremasnya agar tulisanmu semakin perih, menodai dengan bercak-bercak airmata agar aksara itu semakin jatuh sakit.

Kau tidak perlu membalas dendam kepada seorang yang menyuratimu. Ia tak mengerti apa-apa, hanya seorang yang ingin memeluk gelisahmu. Seorang yang ingin mengurung khawatirmu ke dalam botol bersama surat-surat yang kau benci, menghanyutkannya di lepas pantai petang ini. Kembalilah ke tempat yang membuatmu jatuh. Kembalilah ke halaman tak bernama itu.

Tidakkah kau inginkan kembali tersesat di antara aksara-aksara yang kau cintai? Mengapa kau tidak mengubah pikir yang ada? Jemarimu berhak menari di atas putih. Aku menunggumu berguling, tertwa, berteriak, dan tidur bersama kata-kata. Aku menanti senyumanmu yang telanjang di warna ketujuh, lebih terang dari magenta di utara.

Kau harus membalas ayat-ayat yang dilantunkan semesta kepadamu dengan menumpahkan hati di lembar-lembar terakhir. Kau lebih besar dan lembut dari kata pembuka sebuah dongeng, bahkan aku, sang pencerita tak mampu mengemasi dirimu selain kepulanganmu sendiri.--


Komentar