Jatuh Hati

Aku enggak tahu kalo aku punya sisi clingy dalam diriku, dan aku baru sadar itu setelah ketemu kamu. Aku bisa kuat di mana saja, bisa terlihat cuek dan dingin pada siapa saja. Tapi dengan kamu, aku bisa semanja itu. Tembok tinggi yang susah payah aku bangun selama ini seperti luluh begitu aja setelah kenal kamu. Semudah itu.

//

Aku mau melihat wajah galaknya lagi ketika dia diam melihat jalanan malam. Aku mau tersesat lagi di matanya yang kecoklatan. Aku mau menatap senyum manisnya lagi ketika mendengarku berceloteh tentang banyak hal. Aku mau melihat wajah gemasnya lagi ketika menatapku kagum, seseorang yang ia miliki ini begitu bawel akan banyak hal yang berkaitan tentang dirinya. 

Aku ingin mencium wangi parfumnya lagi, yang aku tidak bisa bedakan vanilla atau cokelat seperti parfum laki-laki pada umumnya. Tapi mungkin sebenarnya…aku merindukan rasa aman berada di dekatnya. Aku suka dia yang pengertian, memberiku ruang, menerimaku apa adanya, sepertiku kepadanya. 

Dia tahu enggak sih, kalau senyum dia itu manis banget??? Aku suka lihat dia bergaya casual seperti pakai kaos hitam polos, jeans, topi udah gitu aja. Melihat dia seperti itu, aku kayak bocah lima tahun yang seneng banget akhirnya diizinkan makan es krim dan permen sekaligus. Mataku berbinar-binar, dan aku engga bisa menutupi rasa salah tingkah, juga gemas yang jadi satu.

Aku selalu bisa mentolerir keras kepala dan sifat ngeyelnya ketika kita berdebat tentang hal-hal kecil di sela-sela kesibukannya. Aku merindukan omelan itu. Menyebalkan, aku cuma mau merasakan ada kupu-kupu kecil di perutku karenanya. Hanya karena dia.

Tiap kali dia jauh, seperti sekarang, aku ingin selalu mendengar suaranya. Kalau bicara rindu, tentu aku yang paling besar. Sikap cuek dan dinginnya kadang membuatku bertanya-tanya, apakah dia tidak membutuhkanku. Tapi ketika diri ini mulai ragu, dia tahu caranya untuk meyakinkanku. 

Sebelumnya, aku tidak percaya dengan istilah "pawang" untuk seseorang. Hingga akhir-akhir ini, aku mulai bertanya mungkin hingar-bingar yang ada pada diriku selama ini hanyalah pelampiasan kekhawatiranku akan banyak hal karena aku menyadari… aku jauh lebih tenang saat bersamanya. 

Aku selalu salah tingkah karenanya, bahkan ketika dia tidak bersamaku, aku salah tingkah hanya dengan menceritakan tentangnya kepada teman-temanku. Dan aku bisa salah tingkah sendiri cuma dengan melihat fotonya yang lagi senyum. 

Apa sesulit ini jatuh hati? Ini aku yg lupa diri atau sudah tergila-gila? Aku harus bagaimana? Kata siapa senyumnya bisa menenangkanku, nyatanya aku ingin sekali menghampirinya dan memintanya berhenti untuk membuatku deg-degan. Atau mungkin aku tanya saja sekalian "kira-kira kapan kita bisa hidup bersama?" Karena aku mulai lelah dengan segala drama kangen yang tak sudah-sudah.



Note: 

Tulisan ini belum ada pemiliknya. Kalau kamu bilang iya, artinya kita mulai hari pertama. Gimana?


Komentar