Seseorang yang baik itu bukan aku.*

Aku ingin mengakui perasaanku untuk kedua kalinya. Meski sebanyak apapun aku mengatakan, aku (masih) tidak bisa memilikimu. Sebelumnya, aku sudah begitu putus asa bertanya pada Tuhan di sepertiga malam, bisakah aku memaksa sebuah takdir? Namun lambat laun, aku mulai menerima. Hatiku lebih lega dengan penolakan yang selama ini kutahu kamu tidak mungkin mengatakannya. Kamu memang terlalu baik.

Waktu aku menulis ini, perasaan gugup menyusahkan ini seperti mulai dari nol lagi. Aku engga tau sampai kapan, tapi di hubungan ini, cuma aku yang khawatir sendirian. Takut kamu pergi, tapi juga takut untuk melangkah lebih jauh lagi. Karena kita sama-sama tau jalannya tidak akan mudah. Itu kenapa aku penuh dengan keragu-raguan. Aku sudah belajar ikhlas, tapi bersamamu kupikir jauh lebih menyenangkan… 

Terkadang, aku iri sama semua orang yang bisa semudah itu ngobrol sama kamu, sedangkan aku enggak. Karena sedekat apapun kita, kamu tetap jadi orang yang paling jauh yang pernah aku sukai. Aku senyum-senyum sendiri waktu nulis cerita ini, ada juga bagian yang membuatku menangis. Kupikir aku berhasil melupakanmu, tapi tak apa itu urusanku.

Aku tidak pernah menyesali apapun yang sudah kita lalui. Aku masih kagum, dan selalu berusaha menaruh respect atas apapun yang kamu lakukan, hal-hal yang kamu sukai, apa-apa yang kamu perjuangkan meski tidak ada aku di dalamnya. Aku tidak meminta dan menuntut apapun darimu. Kamu tahu tentang perasaanku saja, itu sudah cukup buatku.

Jaga dirimu di sana.
Jangan berubah ya.
Terima kasih sudah mengizinkanku jadi bagian di hidupmu.
Meskipun cuma sebentar, tapi itu cukup.

Aku tidak mengerti apa ini yang disebut orang-orang sebagai sikap insecure, atau aku sudah di tahap sadar diri. Kita tidak bisa bersama. Jika memaksa, akan ada banyak hal yang harus dikorbankan. Banyak pertanyaan yang pada akhirnya kubiarkan tenggelam. Kita mau saling berjuang atau tidak? Apa kita sanggup? Apa kita mampu untuk bertahan di tengah perjuangan itu? Aku engga setega itu membiarkan kamu berkorban lebih besar untuk bisa bersama seseorang sepertiku. 

Meskipun, aku ingin tahu bagaimana menjadi seseorang yang kamu sayangi? Aku ingin melihat bagaimana kamu menurunkan ego dan keras kepalamu pada seseorang yang lebih bawel darimu. Bagaimana rasanya menjadi seseorang yang selalu kau kagumi. Seperti yang selalu kukatakan, aku akan selalu turut bersuka cita dan bangga padamu. Apapun keputusan yang kamu ambil, siapapun yang kamu pilih nanti. Ketahuilah, aku selalu mendukungmu.

"Karena dia pantas dapatkan seseorang yang lebih baik dariku." Begitu ucapku selepas doa-doa malam yang kupanjatkan untukmu.

Dan… (*)