Tanggal Dua yang Kesepian

Kamu menutup semua akses komunikasi. Aku tau, aku belum cukup tahu diri untuk berhenti. Apa masih boleh aku merindukanmu? Aku tidak tanya ini pantas atau tidak. Tentu, tidak pantas seperti yang sudah kubilang aku belum cukup dewasa untuk menerima sebuah perpisahan. Kukira sedang di fase trauma, atau mungkin aku yang terlalu keras kepala untuk melupakan.

Kadang aku marah padamu. Tenang saja, kemarahanku tidak akan menganggumu. Apa tidak pernah terlintas sebentar saja kamu memikirkanku? Atau kamu sudah terbiasa tega tak ingin tahu keadaanku? Bisa kau bayangkan bagaimana rasanya merindukan seseorang begitu lama, berhari-hari, sementara wajahnya mulai samar-samar di kepala? Bukan sudah melupakan, tetapi karena sudah begitu jauh kita sekarang.

Tidak perlu diberitahu lagi. Aku tahu, aku bodoh. Seperti yang pernah kamu katakan, apa yang bisa aku harapkan dengan menyukai laki-laki sepertimu. Aku juga ingin berhenti, sungguh. Tapi sebentar saja bisa kamu bayangkan bagaimana lelahnya menjadi aku? Yang tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri.

Sekarang aku jadi gampang menangis. Ada saat dimana dadaku begitu sesak menahan diri untuk sekedar menyapamu, ingin berbicara denganmu, ingin tahu bagaimana hari-harimu, keluh-kesahmu, hal apa yang sedang mengganggu pikiranmu. Aku cuma bisa menangis karena tidak lagi bisa menggapaimu. Oh aku lupa. Kamu memang tidak pernah bisa kuraih.

Bahkan kau abaikan seperti ini tetap tidak bisa membuatku membencimu. Haha. Aku begitu bodoh. Aku tidak memintamu membuka hati untukku. But please, sekali saja izinkan aku menjadi egois. Ini tentang aku dan perasaanku. Aku sudah tahu sejak awal kalau kita tidak akan pernah berjalan searah. Biarkan sekali saja, aku merasakan bahwa perasaanku kau terima tanpa perlu kau balas.


Ran

Seandainya saja dulu aku tak jujur tentang perasaanku padanya.


Komentar