Postingan

50:50

Gambar
http://sf.co.ua/ Sempet mikir waktu itu, apa gue berhenti aja ya? Setelah dia pergi, gue kayak orang kebingungan, jadi enggak suka apa-apa. Gue nyalahin Tuhan. Gue berpikir dunia jahat banget, seolah-olah gue akhirnya paham,” Oh, jadi gini toh rasanya waktu orang-orang bilang dunia itu gak pernah adil…” gue jadi sering berpikiran buruk, kayak bahagia tuh mustahil banget buat gue. Barang mewah. Butuh waktu dua tahun buat gue sembuh. Bukan pertama kalinya gue ngerasain perpisahan, tapi kali ini kenapa lama banget buat gue sadar kalo titik balik kehidupan bisa dari mana aja. Bahkan sampe sekarang gue masih takut buat mulai lagi. Seenggaknya gue lanjut lagi, gue ngelakuin apa yang dulu sempet gue tinggalin. Gue nulis lagi. Gue jadi sadar semesta itu gak pernah jahat. Sama sekali. Gue dikasih apa aja yang gue butuhin tapi karena gue terlalu fokus ke satu orang, gue kayak nolakin semua bahagia yang dikasih buat gue. Ketemu dia, terus pisah, sekarang balik lagi jadi orang as...

3.31 Kenapa ia begitu kucintai?

Ia menjagaku seperti seorang ayah Ia mencintai seperti seorang pria Terkadang, ia tertawa seperti anak usia lima Keluh-kesahnya ingin didengarkan seperti seorang remaja. Ia bisa sehangat mentari, Bisa sedingin malam, Dan ia bisa membawaku ke mana saja lewat cerita-ceritanya. Hariku lengkap melihat wajahnya seperti bayi saat tertidur Membuatku tersenyum, menyadari aku tidak bisa lari dari seseorang yang ada di depanku ini. Kenapa ia begitu kucintai? Kadang ia bisa sangat keras kepala, Bisa begitu manis saat salah tingkah. Bernyanyilah di depannya, senyumnya akan membuatmu lupa bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Humornya sangat buruk, tapi aku selalu tertawa. Waktu terasa begitu cepat saat bersamanya Mendengar tawanya, melihat senyumnya, menikmati gerak tubuhnya yang begitu antusias saat bercerita. Aku bisa jadi apa saja di depannya. Tanpa make up, oversized tees, unbrushed teeth, or get lost in chocolate and ice cream. Ia ingin aku menjad...

Ayo Berani Jadi Manusia

Kadang kesel dengan isi kepala sendiri. Kenapa nggak berhenti? Kaya penuh banget, pengen nangis tapi nggak bisa. Entah karena nggak mau atau udah terlalu capek buat nangis. Nggak bisa selalu buat orang lain bahagia, dan nggak harus. Bahkan buat diri sendiri bahagia aja susah. Nggak tau badan sendiri maunya apa, nggak ngerti. Pengen istirahat tapi kenapa nggak mau, kenapa pura-pura? Untuk siapa? Emang mau ngebuktiin apa sih? Buru-buru, sampe sesak napas, emang mau ke mana? Padahal bakalan sampe juga. Kalo takut harusnya minta ditemenin kan? Tapi kenapa malah menghindar? Patah hati kan wajar. Kalo lurus-lurus aja nggak seru. Nggak mau ngerasa bosen kan? Mau jadi manusia aja takut. Takut kalo nggak kuat, takut kalah, takut salah, takut nangis, takut kalo nggak bisa. Padahal gapapa… nggak harus semuanya bisa, nggak harus selalu kuat. Yakin udah jadi diri sendiri? Sesayang apa sih sama diri sendiri? Kapan terakhir kali bener-bener ketawa lepas?...

2. 24

Tahun-tahun yang paling kubenci. Pertemuan yang kusesali. Dia tahu perasaanmu, tapi pura-pura tidak mengerti. Dia bilang tidak akan pernah meninggalkanmu, padahal ia sedang mencari. Kau sudah tahu bagaimana akhirnya, tapi terlalu bodoh untuk pergi. Apa segini saja kau memperlakukan hatimu sendiri? Mengingatnya saja sudah berat karena kau harus menyakiti diri sendiri berkali-kali. Kau tidak akan mendapatkan apa-apa dengan menyalahkan pertama kali. Pertama kali bertemu. Pertama kali saling berbicara. Pertama kali bertukar pesan singkat. Pertama kali mengkhawatirkannya. Pertama kali ingin melindunginya. Pertama kali menyadari bahwa ini takkan mudah. Kau menangis, dia takkan peduli. Merindukannya lebih berat dari perpisahan itu sendiri. Untuk apa meminta maaf, untuk apa melupakan. Dia bahkan bukan seseorang yang pernah kau miliki. Jangan ganggu dia lagi, ia juga sedang berjuang untuk membahagiakan wanitanya. Kenapa tidak kau temukan langkah sen...

15. 47

Membencimu? Mana mungkin. Baru memulainya saja aku sudah merindukanmu berkali-kali. Ternyata setahun berlalu, puisi itu masih kamu. Betapa bodohnya, seharusnya aku mampu membencimu, tapi justru mengkhawatirkanmu. Aku menangis, kesal dengan diri sendiri. Bagaimana rasanya jadi seseorang yang selalu dikagumi? Mungkin biasa saja bagimu yang tidak tahu. Bebas saja tangan siapa yang ingin kau genggam, kepada siapa kau ingin jatuhkan pilihan. Lalu bagaimana denganku? Ingin pergi tapi tak bisa ke mana-mana. Katanya omong kosong jika rindu tapi tidak bertemu,  kenyataannya banyak rindu tidak tersampaikan kepada yang tidak terikat. Tanpamu, aku takut dengan segala yang ada di sekitarku. Apa hanya aku yang mengerti cinta di saat kau pergi? Kau bisa tertawa, melihat ke arah lain, menggenggam siapa saja yang kau pilih. Aku melalui hari-hari seperti orang gila. Selalu menangis ketika ingin tidur dan kembali menangis saat terbangun di pagi hari mengingatmu. Lupa rasanya air put...

Tulisan Ini Bukan Tentang Kamu

Ini bukan tentang kamu saja. Tentang dia, yang memikirkanmu setiap kali ia membuka mata di pagi hari. Tentang dia, yang ingin menjagamu. Tentang dia, yang selalu bertanya kabarmu, apakah kau baik-baik saja di sana. Tentang dia, yang selalu menyisihkan sayuran di piringnya untukmu agar kau tetap sehat. Tentang dia, yang selalu mendoakanmu. Tentang dia, yang selalu menatapmu diam-diam. Tentang dia, yang selalu memasukkan jaket ke dalam tasmu. Tentang dia, yang belajar membuat telur setengah matang karena kau suka seperti itu. Tentang dia, yang akan selalu menyelimutimu saat kau ketiduran. Tentang dia, yang tidak akan mematikan TV karena kau terbiasa tidur dengan cara seperti itu. Tentang dia, yang tidak lagi mematikan lampu di malam hari. Tentang dia, yang akhirnya mau melipat halaman novel kesukaanmu yang tertinggal di ruang tamu padahal ia benci melakukan itu. Tentang dia, yang tetap tertawa pada lelucon yang kau ulang-ulang. Tentang dia, yang selalu mendukung semua keputusanmu....

I LOVE YOU

Mungkin memang harus mabuk dulu agar aku bisa katakan. Kamu boleh anggap ini sebuah kesalahan, tapi yang jelas ini bukan lelucon. Aku bukan orang yang ekspresif dengan perasaan, bahkan berdiri di depan cermin aku bisa canggung dengan diriku sendiri. Meski aku selalu nyaman bersamamu, ada hal yang selalu kutekan dan tidak pernah berhasil untuk kusampaikan. Entahlah, hatiku terlalu bodoh dan lemah. Sudah banyak waktu terbuang sia-sia dengan kenyataan aku menyesal tidak mengatakannya. Saat di depanmu, aku bertingkah berlawanan dengan apa yang kusiapkan pada malam-malam sebelumnya. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Sudah kukatakan malam ini, dua kali dengan terbata-bata dan terdengar tidak jelas. Kau tidak percaya, satu hal yang mungkin tidak akan pernah kulakukan lagi. Kau hanya diam dan tersenyum, sedangkan aku menunggu balasan. Setidaknya katakan sesuatu. Esok pagi, aku masih harus berpura-pura lupa tentang malam ini. Kemungkinan yang paling besar adalah kau tidak ingin mene...