Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Seseorang yang baik itu bukan aku.*

Aku ingin mengakui perasaanku untuk kedua kalinya. Meski sebanyak apapun aku mengatakan, aku (masih) tidak bisa memilikimu. Sebelumnya, aku sudah begitu putus asa bertanya pada Tuhan di sepertiga malam, bisakah aku memaksa sebuah takdir? Namun lambat laun, aku mulai menerima. Hatiku lebih lega dengan penolakan yang selama ini kutahu kamu tidak mungkin mengatakannya. Kamu memang terlalu baik. Waktu aku menulis ini, perasaan gugup menyusahkan ini seperti mulai dari nol lagi. Aku engga tau sampai kapan, tapi di hubungan ini, cuma aku yang khawatir sendirian. Takut kamu pergi, tapi juga takut untuk melangkah lebih jauh lagi. Karena kita sama-sama tau jalannya tidak akan mudah. Itu kenapa aku penuh dengan keragu-raguan. Aku sudah belajar ikhlas, tapi bersamamu kupikir jauh lebih menyenangkan…  Terkadang, aku iri sama semua orang yang bisa semudah itu ngobrol sama kamu, sedangkan aku enggak. Karena sedekat apapun kita, kamu tetap jadi orang yang paling jauh yang pernah aku sukai. Aku sen...

Tanggal Dua yang Kesepian

Kamu menutup semua akses komunikasi. Aku tau, aku belum cukup tahu diri untuk berhenti. Apa masih boleh aku merindukanmu? Aku tidak tanya ini pantas atau tidak. Tentu, tidak pantas seperti yang sudah kubilang aku belum cukup dewasa untuk menerima sebuah perpisahan. Kukira sedang di fase trauma, atau mungkin aku yang terlalu keras kepala untuk melupakan. Kadang aku marah padamu. Tenang saja, kemarahanku tidak akan menganggumu. Apa tidak pernah terlintas sebentar saja kamu memikirkanku? Atau kamu sudah terbiasa tega tak ingin tahu keadaanku? Bisa kau bayangkan bagaimana rasanya merindukan seseorang begitu lama, berhari-hari, sementara wajahnya mulai samar-samar di kepala? Bukan sudah melupakan, tetapi karena sudah begitu jauh kita sekarang. Tidak perlu diberitahu lagi. Aku tahu, aku bodoh. Seperti yang pernah kamu katakan, apa yang bisa aku harapkan dengan menyukai laki-laki sepertimu. Aku juga ingin berhenti, sungguh. Tapi sebentar saja bisa kamu bayangkan bagaimana lelahnya menjadi aku...

Tulisan Ini Bukan Tentang Kamu

Ini bukan tentang kamu saja. Tentang dia, yang memikirkanmu setiap kali ia membuka mata di pagi hari. Tentang dia, yang ingin menjagamu. Tentang dia, yang selalu bertanya kabarmu, apakah kau baik-baik saja di sana. Tentang dia, yang selalu menyisihkan sayuran di piringnya untukmu agar kau tetap sehat. Tentang dia, yang selalu mendoakanmu. Tentang dia, yang selalu menatapmu diam-diam. Tentang dia, yang selalu memasukkan jaket ke dalam tasmu. Tentang dia, yang belajar membuat telur setengah matang karena kau suka seperti itu. Tentang dia, yang akan selalu menyelimutimu saat kau ketiduran. Tentang dia, yang tidak akan mematikan TV karena kau terbiasa tidur dengan cara seperti itu. Tentang dia, yang tidak lagi mematikan lampu di malam hari. Tentang dia, yang akhirnya mau melipat halaman novel kesukaanmu yang tertinggal di ruang tamu padahal ia benci melakukan itu. Tentang dia, yang tetap tertawa pada lelucon yang kau ulang-ulang. Tentang dia, yang selalu mendukung semua keputusanmu....

I LOVE YOU

Mungkin memang harus mabuk dulu agar aku bisa katakan. Kamu boleh anggap ini sebuah kesalahan, tapi yang jelas ini bukan lelucon. Aku bukan orang yang ekspresif dengan perasaan, bahkan berdiri di depan cermin aku bisa canggung dengan diriku sendiri. Meski aku selalu nyaman bersamamu, ada hal yang selalu kutekan dan tidak pernah berhasil untuk kusampaikan. Entahlah, hatiku terlalu bodoh dan lemah. Sudah banyak waktu terbuang sia-sia dengan kenyataan aku menyesal tidak mengatakannya. Saat di depanmu, aku bertingkah berlawanan dengan apa yang kusiapkan pada malam-malam sebelumnya. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Sudah kukatakan malam ini, dua kali dengan terbata-bata dan terdengar tidak jelas. Kau tidak percaya, satu hal yang mungkin tidak akan pernah kulakukan lagi. Kau hanya diam dan tersenyum, sedangkan aku menunggu balasan. Setidaknya katakan sesuatu. Esok pagi, aku masih harus berpura-pura lupa tentang malam ini. Kemungkinan yang paling besar adalah kau tidak ingin mene...

Bukan Buat Ipin

Bulan Oktober adalah bulannya. Semoga tulisan ini tidak terlambat karena aku tidak tahu tanggal pastinya. Sebenarnya tidak hanya bulan Oktober saja, ada bulan dan tanggal lainnya yang mengantre untuk diisi kenangan setiap tahunnya. Tiga tahun belakangan keberadaanku di antara mereka mulai bisa dihitung jari dan hari demi hari kehadiranku tidak lagi sesempurna angka sepuluh. Aku menyadari mungkin ini egois, perlahan-lahan tanpa kusadari celoteh mereka mulai jauh terdengar ditutupi rutinitas yang justru membuatku diam di tempat. Satu hal yang kutakutkan adalah suatu hari aku tidak lagi bisa menebak pola dan tingkah laku mereka sama seperti aku lupa dengan hari ulang tahun mereka. Sebenarnya, untuk hal ini aku menolak untuk ingat, untuk berbasa-basi dengan ucapan selamat. Aku tahu, di antara kalian aku yang paling keras kepala untuk tidak memberi dari yang paling sederhana. Selama bersama, sedikit sekali hal-hal sepele yang kulakukan—sesederhana bertanya apa kabar, bilang ...

Ryan

Sebut saja ia Ryan. Mungkin terdengar kebarat-baratan. ltu adalah salah satu tokoh Drama Korea yang kutonton saat ini. Bukan kali pertama kami bertemu dalam keadaan ia selalu membantu dengan kecerobohanku. Entah sejak kapan tas yang biasa kugunakan untuk ke kampus berlubang kecil di sudut kiri menyebabkan bolpoin yang akan kugunakan untuk tanda tangan dosen hilang sekejap. Aku berusaha mencari sambil berjalan di sekitaran parkir kampus gedung A siang itu. Ia mencegatku sambil rnenyodorkan pulpen seolah tahu apa yang kucari. Aku terkejut, memandangnya heran, bahkan aku tidak tahu namanya saat itu. Jangan kelamaan mikir, dosen enggak akan seluang itu nunggu kamu mau ambil   pulpen ini atau enggak. Aku tidak peduli, makin keheranan. Kau memberi paksa pulpen itu ke tanganku lalu pergi. Ya, memang dosen tidak punya banyak waktu luang, tiga jam menunggu akhirnya ada kemajuan untuk penelitianku. Kau menunggu di luar ruangan, lebih tepatnya, aku melihatmu kembali dengan dua g...

Helvme

Dia bisa dapatkan apa saja yang ia mau, bahkan sebelum bertemu denganku, ia sudah punya dunianya sendiri. Namun, apa yang ia katakan? Aku sudah cukup dengan memilikimu, duniaku tanpamu tidak berarti apa-apa Lalu, aku mulai menganggap itu semua hanyalah rayuan, ia suka sekali bercanda. Bahkan aku pernah berpikir ia seperti sedang bermain-main dengan perasaanku. Apa hanya aku yang memiliki perasaan padanya? Apa ini hanya sepihak? Seringkali aku mengatakan padanya bahwa ia tidak romantis dan tidak peka sampai aku menyadari ia begitu menyayangiku lebih dari yang aku tahu, lebih dari yang bisa ia tunjukkan. Dia tidak ekspresif dan pemalu, sikap dingin yang kuanggap menyebalkan sebenarnya kelembutan yang selalu ia berikan. Justru aku yang tidak mengerti dan tidak peka padanya. Dia tidak terbiasa untuk bilang ‘terima kasih’ dan ‘maaf’, tapi bersamaku, ia ingin menjadi yang terbaik. Ia ingin selalu melindungiku, menjadi seseorang yang bisa kuandalkan dengan sifat cerobohku. ...

Setahun Berlalu

Aku masih mencarimu di tempat biasa kita menghabiskan waktu dengan kopi kesukaanmu. Kau seringkali mengeluh dengan menambahkan dua sendok gula ke dalam cangkirmu. Masih kutemukan diriku tanpa sadar tersenyum mengingatmu di halte biasa kau mengantarku. Aku masih menuliskan namamu di pencarian media sosialku, memastikan kabarmu baik baik saja. Sebelum tidur, aku membaca pesan pesan singkat darimu, membuatku kembali menghitung sudah sejauh apa jarak kita sekarang. Aku tidak bisa mengendalikan pikiranku saat memanggil teman dengan namamu. Aku menonton iklan sepak bola lebih lama, membayangkan betapa bahagianya kau melakukan hobimu. Aku menahan diriku untuk tidak menutup telinga saat hujan dan petir karena ingin terlihat berani di matamu. Lagi lagi aku tersenyum tanpa sadar saat melihat brokoli dan wortel di dalam mangkuk sup, bagaimana dulu kau begitu gemas melihatku menyisihkan sayuran di nasi goreng kesukaanku. Aku tidak lagi memesan kentang goreng ukuran besar. Ak...

Selamat Ulang Tahun.

Gambar
weheartit 01 Februari 2017, dua tahun yang lalu. Sore itu di Stasiun Pasar Senen tepat sehari sebelum ulang tahunku. Kau ingin pulang ke Jogja, merindukan pangkuan ibumu di kampung halaman. Kau tidak berkata apa-apa selain memunggungiku. Aku kira bandara, stasiun, dan terminal adalah tempat paling klasik untuk sebuah perpisahan, sampai aku mengalaminya. Kau inginkan aku mengantarmu, rindu katamu. “Dek, di mana?” “Lagi dengan temen . Pulang jam berapa, Mas?” “Jam tujuh. Kamu ke sini ndak antar aku?” “ Kan udah gede bisa pulang sendiri hehe…” “Sempatkan ke sini, nanti aku rindu.” “Siap. Aku juga enggak jauh kok dari stasiun.” Dan seperti perempuan pada umumnya yang selalu luluh dengan kata-kata manis para lelaki, aku mendapatimu tersenyum senang saat melihatku di depanmu. “Sudah mau berangkat?” “Belum, masih lama. Masih ada waktu sekitar tiga puluh menit lagi. Kamu sudah makan?” “Sudah tadi dengan temen . Terus sekarang mau ngapain ?” ...

Hanya Selasa Pagi...

Gambar
weheartit.com Tak ada yang istimewa pagi itu, seperti biasa kau menjemputku pukul setengah tujuh untuk berangkat ke kampus. Dalam perjalanan kau berbicara, samar-samar yang bisa ku dengar—kau ingin kita selesai. Selama perjalanan, aku berpegangan pada pada pinggangmu. Saat kau ucapkan itu, ku pukul pelan perutmu, ingin kau berhenti bercanda seperti itu. Kau bilang hari ini adalah hari terakhir kau me ngantarku. Tepat setelah kau ucapkan itu, kita sampai di pintu gerbang kampusku. Aku terdiam cukup lama, masih mencerna apa maksudmu, belum turun dari motor. Kau bisa saja menghilang, tapi kau memilih pamit—katamu. Kau tidak bisa mengatasi perbedaan kita, kau tidak ingin aku terluka lebih dalam jika segalanya dilanjutkan.  Siapa yang memintamu menyelesaikan semuanya? Lantas setelah kehilangan, apa aku akan bahagia dan tidak terluka? Kau tahu, keras kepalamu yang membuatku tergila-gila. Seolah kau tahu apa yang ku rasakan dan apa yang terjadi dengan diriku setelah kau tingga...

I Hate You

Aku hampir benci, kau pergi saja. Lambat laun, cinta yang kau abaikan ini melangkah ke arah yang salah meski akhirnya masih sama: kamu. Aku ingin menyayangimu diam-diam penuh aksara, berbunga-bunga, mengecap tawamu dari sudut yang tidak pernah kau rasa. Aku ingin katakan tapi tidak berani. Aku diam, tapi tidak tahu diri seolah jiwa ini bernyali. Setiap malam aku sibuk dengan sunyi, kau justru seenaknya datang dan pergi. Meninggalkan jejak di sudut paling kiri raga ini. Aku tidak ingin jadi pembenci. Kau bawa saja egomu yang paling tinggi, lalu kau nikahi. Aku tidak tahu ke depan rasa ini akan seperti apa. Aku ingin lupa, lalu bersamamu mengulang semua dari kata pertama: kita. Menangis lalu tertawa sudah berulang kali aku lakukan, tidak tahu lagi siapa di antara kita yang paling memaksa. Aku harus mundur sejauh-jauhnya, atau kau yang menghilang sampai tidak dikenali lagi oleh isi kepala. Pilih saja. Nanti dulu bicarakan tentang dia, kau pastikan benar-benar pergi hingga jerit hati...

Make A Wish!

Gambar
we heart it Aku tidak terbiasa mengucap selamat untuk siapapun yang mengulang tahun. Kalau diingat-ingat, bisa dihitung jari aku melakukannya—itupun kepada keluargaku. Beberapa hari lalu ada perayaan untukmu. Aku tidak bisa melakukan banyak hal, komunikasi kita terbatas bahkan aku dan kamu sudah jelas mau ke mana setelah ini, kita akan berada di arah yang berbeda. Kini, kau adalah teman yang diam-diam selalu ku pantau. Kau memberiku ruang untuk jatuh hati diam-diam, meski aku tidak berbakat. Aku aminkan segala doa yang kau panjatkan. Bertambah usia adalah di mana kau menabung   mimpi-mimpi baik dari orang-orang di sekelilingmu.  Ada banyak harapan dariku—kau di sana, mari kita aminkan bersama. Segala bentuk semoga yang aku ucapkan tidak akan pernah bisa melampaui senyum ibuk dan cemas bapakmu 25 tahun yang lalu. Di setiap tarikan nafas dan keringat orang tuamu ada keinginan terdalam yang mungkin mereka lupa katakan karena terhalang rengekan sepeda barumu—jadila...

:)

Untuk kau yang terpilih, Selamat sebab mencintai dan dicintai oleh seseorang lelaki yang begitu baik. Selamat juga untuk kamu yang akhirnya menemukan seseorang perempuan lebih baik dariku. Sebentar saja, biarkan aku bercerita kepada perempuanmu agar tidak ada kata lelah dan berhenti dalam perjalanannya mengenalmu. Lelakimu itu penyuka kopi. Sesekali temanilah ia sebab saat bersama dulu, aku justru memintanya berhenti. Dia suka tiba-tiba merasa lapar pada tengah malam, maka dengarkan keluhannya. Sesekali ia ingin dimanja minta disuapi, yang harus kamu lakukan berhentilah bersikap gengsi. Kadangkala ia merasa kesepian dan overthinking , tunggu saja, jika ia merasa siap maka dengarkan keluh-kesahnya sebab ia tidak semudah itu menceritakan perasaannya. Bersabarlah, ia masih memiliki anak kecil di dalam dirinya–egonya adalah salah satu cara agar seorang ibu dalam dirimu memperhatikannya. Ia cukup sibuk demi memprioritaskan dirimu. Ia tidak mengabaikanmu, maka berprasangka baik...

Kau Baik-Baik Saja

Kau kehilangan (lagi), waktu menjadi antagonis yang bisa kau salahkan. Kau percaya ia sedang tersesat dan akan kembali-kali ini-. Atau kau lupa, kau memang bukan tujuannya. Kau memilih menunggu. Tidak tahu malu. Sebenarnya kau hanya bmbang- bertahan atau melepaskan- sebab kerja hatimu telah terbiasa menangkap harapan hingga lupa dengan logikamu. Jika kau temukan dirimu menahan sesak, menangis pukul tiga pagi karena riuh kepalamu, harusnya kau sadar sudah saatnya kau pergi. Tubuhmu ingin kau mengerti bahwa ia tak akan kembali. Pertemuan itu tidak pernah menjadikanmu sebagai pulangnya, kepergian yang kau tangisi itu memang tidak bertujuan untuk kembali. Kau tidak harus selalu bahagia. Tidak semua dapat kau baca termasuk perpisahan. Abu-abu di matamu biarkanlah mengalir membawa sesal dan andai. Kau biarkan kalimat menggantung di mulutmu, sebab matamu menyaksikan airmata yang jatuh lebih dulu. Tidak ada yang harus pergi lebih awal. Kau sedang tidak balapan siapa yang paling cepat me...

Aku di Jakarta

Sore itu di kedai kopi tempat biasa kita bertemu. Kau duduk di situ, di depanmu seorang perempuan dengan rambut bergelombang, berkacamata, dan tertawa. Pun dirimu. Entah apa yang membuatku tersenyum melihatmu. Kau tidak begitu, dulu, ketika bersamaku. Perempuan itu memanggil pelayan untuk menambah segelas kopi lagi. Kalian sama. Dan aku? bahkan pernah memintamu berhenti. Rasanya akan sia-sia sapaan dariku, meski kau seringkali berkata, "kabari aku jika di Jakarta". Aku memperhatikanmu, dari meja yang paling jauh mendekati pintu. Aku masih sama, dan kau tidak. Masa depan sudah ada di tanganmu, tepatnya di hadapanmu sekarang ini. Aku tahu dari caramu menatapnya, dulu juga begitu, tapi aku lebih sering mengalihkan pandangan. Kau mendengarnya bercerita, sesekali jemarimu menyentuh punggung tangannya. Tidak jauh dari tangan kirinya terlihat sebuah alkitab yang membuatku bergumam,  "kau sudah menemukan yang sepantasnya". Aku memesan kopi kesukaanmu, hanya saja...

Pamit

Maaf, beberapa hari yang lalu sempat meracau yang mungkin membuatmu kaget karena rutinitas dan rindu yang tak sudah-sudah membuat semuanya terjadi secara tiba-tiba. Kamu bisa protes, bisa saja, semua orang punya rutinitas dan masalah tapi tidak perlu sampai mengganggu kenyamanan orang lain seperti yang saya lakukan. Saya bisa saja bertahan lebih lama lagi, bisa saja, atau membiarkan semua hilang tanpa harus izin dan berpamitan. Sayangnya, saya tidak terbiasa mengumpulkan gengsi, sukarela menyiksa diri sendiri, menerkan-nerka kehidupanmu di sana. Saya menyukai kamu. Tidak persis begitu yang saya katakan, lebih tepatnya memberi tahu bahwa kemarin saya menyukai kamu dan sekarang saya ingin berhenti, walaupun mungkin di kemudian hari saya masih tidak bisa melupakan, setidaknya kamu tahu saya menyukaimu, pernah. Saya hanya ingin kamu tahu, bahkan tanpa bertanya bagaimana perasaanmu. Bagi saya tidak perlu. Saya tidak sedang mencari kepastian apakah yang saya utarakan berbalas atau tid...