Postingan

Ryan

Sebut saja ia Ryan. Mungkin terdengar kebarat-baratan. ltu adalah salah satu tokoh Drama Korea yang kutonton saat ini. Bukan kali pertama kami bertemu dalam keadaan ia selalu membantu dengan kecerobohanku. Entah sejak kapan tas yang biasa kugunakan untuk ke kampus berlubang kecil di sudut kiri menyebabkan bolpoin yang akan kugunakan untuk tanda tangan dosen hilang sekejap. Aku berusaha mencari sambil berjalan di sekitaran parkir kampus gedung A siang itu. Ia mencegatku sambil rnenyodorkan pulpen seolah tahu apa yang kucari. Aku terkejut, memandangnya heran, bahkan aku tidak tahu namanya saat itu. Jangan kelamaan mikir, dosen enggak akan seluang itu nunggu kamu mau ambil   pulpen ini atau enggak. Aku tidak peduli, makin keheranan. Kau memberi paksa pulpen itu ke tanganku lalu pergi. Ya, memang dosen tidak punya banyak waktu luang, tiga jam menunggu akhirnya ada kemajuan untuk penelitianku. Kau menunggu di luar ruangan, lebih tepatnya, aku melihatmu kembali dengan dua g...

Helvme

Dia bisa dapatkan apa saja yang ia mau, bahkan sebelum bertemu denganku, ia sudah punya dunianya sendiri. Namun, apa yang ia katakan? Aku sudah cukup dengan memilikimu, duniaku tanpamu tidak berarti apa-apa Lalu, aku mulai menganggap itu semua hanyalah rayuan, ia suka sekali bercanda. Bahkan aku pernah berpikir ia seperti sedang bermain-main dengan perasaanku. Apa hanya aku yang memiliki perasaan padanya? Apa ini hanya sepihak? Seringkali aku mengatakan padanya bahwa ia tidak romantis dan tidak peka sampai aku menyadari ia begitu menyayangiku lebih dari yang aku tahu, lebih dari yang bisa ia tunjukkan. Dia tidak ekspresif dan pemalu, sikap dingin yang kuanggap menyebalkan sebenarnya kelembutan yang selalu ia berikan. Justru aku yang tidak mengerti dan tidak peka padanya. Dia tidak terbiasa untuk bilang ‘terima kasih’ dan ‘maaf’, tapi bersamaku, ia ingin menjadi yang terbaik. Ia ingin selalu melindungiku, menjadi seseorang yang bisa kuandalkan dengan sifat cerobohku. ...

Setahun Berlalu

Aku masih mencarimu di tempat biasa kita menghabiskan waktu dengan kopi kesukaanmu. Kau seringkali mengeluh dengan menambahkan dua sendok gula ke dalam cangkirmu. Masih kutemukan diriku tanpa sadar tersenyum mengingatmu di halte biasa kau mengantarku. Aku masih menuliskan namamu di pencarian media sosialku, memastikan kabarmu baik baik saja. Sebelum tidur, aku membaca pesan pesan singkat darimu, membuatku kembali menghitung sudah sejauh apa jarak kita sekarang. Aku tidak bisa mengendalikan pikiranku saat memanggil teman dengan namamu. Aku menonton iklan sepak bola lebih lama, membayangkan betapa bahagianya kau melakukan hobimu. Aku menahan diriku untuk tidak menutup telinga saat hujan dan petir karena ingin terlihat berani di matamu. Lagi lagi aku tersenyum tanpa sadar saat melihat brokoli dan wortel di dalam mangkuk sup, bagaimana dulu kau begitu gemas melihatku menyisihkan sayuran di nasi goreng kesukaanku. Aku tidak lagi memesan kentang goreng ukuran besar. Ak...

Selamat Ulang Tahun.

Gambar
weheartit 01 Februari 2017, dua tahun yang lalu. Sore itu di Stasiun Pasar Senen tepat sehari sebelum ulang tahunku. Kau ingin pulang ke Jogja, merindukan pangkuan ibumu di kampung halaman. Kau tidak berkata apa-apa selain memunggungiku. Aku kira bandara, stasiun, dan terminal adalah tempat paling klasik untuk sebuah perpisahan, sampai aku mengalaminya. Kau inginkan aku mengantarmu, rindu katamu. “Dek, di mana?” “Lagi dengan temen . Pulang jam berapa, Mas?” “Jam tujuh. Kamu ke sini ndak antar aku?” “ Kan udah gede bisa pulang sendiri hehe…” “Sempatkan ke sini, nanti aku rindu.” “Siap. Aku juga enggak jauh kok dari stasiun.” Dan seperti perempuan pada umumnya yang selalu luluh dengan kata-kata manis para lelaki, aku mendapatimu tersenyum senang saat melihatku di depanmu. “Sudah mau berangkat?” “Belum, masih lama. Masih ada waktu sekitar tiga puluh menit lagi. Kamu sudah makan?” “Sudah tadi dengan temen . Terus sekarang mau ngapain ?” ...

Terima Kasih, Senang Mengenalmu.

Sabar ya aku lagi menulis cerita terakhir tentang kita. Iya. Terakhir. Aku sudah tidak mau lagi mengabadikan kamu dalam tulisanku. Kita tetap baik2 saja, tapi................................... Oke selesai. Ceritanya sudah selesai. Tidak bercerita tentang bagaimana kita, tapi tetap saja masih kamu 'kan tokoh utamanya? Kalau kamu ingin mengingat kembali bagaimana kita bisa saling mengenal, bagaimana k ita bisa bertemu untuk pertama kalinya, kamu bisa baca tulisan-tulisanku sebelumnya. Itu semuanya tentang kamu. Sekarang sudah cukup ya. Yang perlu kamu ingat, aku adalah orang yang beruntung bisa mengenalmu, bisa merasakan cinta yang kau berikan, bisa membuat iri orang-orang yang mengenal kita. Sudah tentu, aku bukan orang yang paham tentang bagaimana Tuhanmu, tapi jika benar Sinterklas itu ada, kamu  seperti hadiah yang salah kirim. Kamu adalah hadiah terindah yang pernah dititipkan Tuhan untukku, untuk kemudian dikembalikan kepada hati yang memang seharusnya untukmu. Salam...

Hanya Selasa Pagi...

Gambar
weheartit.com Tak ada yang istimewa pagi itu, seperti biasa kau menjemputku pukul setengah tujuh untuk berangkat ke kampus. Dalam perjalanan kau berbicara, samar-samar yang bisa ku dengar—kau ingin kita selesai. Selama perjalanan, aku berpegangan pada pada pinggangmu. Saat kau ucapkan itu, ku pukul pelan perutmu, ingin kau berhenti bercanda seperti itu. Kau bilang hari ini adalah hari terakhir kau me ngantarku. Tepat setelah kau ucapkan itu, kita sampai di pintu gerbang kampusku. Aku terdiam cukup lama, masih mencerna apa maksudmu, belum turun dari motor. Kau bisa saja menghilang, tapi kau memilih pamit—katamu. Kau tidak bisa mengatasi perbedaan kita, kau tidak ingin aku terluka lebih dalam jika segalanya dilanjutkan.  Siapa yang memintamu menyelesaikan semuanya? Lantas setelah kehilangan, apa aku akan bahagia dan tidak terluka? Kau tahu, keras kepalamu yang membuatku tergila-gila. Seolah kau tahu apa yang ku rasakan dan apa yang terjadi dengan diriku setelah kau tingga...

Putuskan.

Apa kau sedang jatuh cinta? Setiap hari. Apa begitu mudah? Tergantung. Tergantung bagaimana? Sudut pandangmu. Sekarang apa kau sedang jatuh cinta? Aku tidak tahu. Menyukai seseorang? Diam-diam. Sulitkah? Melelahkan. Tapi kau menikmatinya? Sangat. Begitu sudut pandangmu. Hah? Kau yang mempersulit dirimu sendiri. Kenapa tidak katakan? Dia menyukai orang lain. Apa yang membuatmu bertahan? Karena aku bodoh. Ya. Kau memang bodoh karena mempersulit dirimu sendiri. Lalu, aku harus bagaimana? Dunia ini luas, temukan seseorang. Bagaimana caranya melupakan? Aku menyerah. Maksudmu? Aku tidak tahu. Aku menyerah. Bagaimana bisa tidak tahu, kau itu diriku sendiri.