Postingan

Setahun Berlalu

Aku masih mencarimu di tempat biasa kita menghabiskan waktu dengan kopi kesukaanmu. Kau seringkali mengeluh dengan menambahkan dua sendok gula ke dalam cangkirmu. Masih kutemukan diriku tanpa sadar tersenyum mengingatmu di halte biasa kau mengantarku. Aku masih menuliskan namamu di pencarian media sosialku, memastikan kabarmu baik baik saja. Sebelum tidur, aku membaca pesan pesan singkat darimu, membuatku kembali menghitung sudah sejauh apa jarak kita sekarang. Aku tidak bisa mengendalikan pikiranku saat memanggil teman dengan namamu. Aku menonton iklan sepak bola lebih lama, membayangkan betapa bahagianya kau melakukan hobimu. Aku menahan diriku untuk tidak menutup telinga saat hujan dan petir karena ingin terlihat berani di matamu. Lagi lagi aku tersenyum tanpa sadar saat melihat brokoli dan wortel di dalam mangkuk sup, bagaimana dulu kau begitu gemas melihatku menyisihkan sayuran di nasi goreng kesukaanku. Aku tidak lagi memesan kentang goreng ukuran besar. Ak...

Selamat Ulang Tahun.

Gambar
weheartit 01 Februari 2017, dua tahun yang lalu. Sore itu di Stasiun Pasar Senen tepat sehari sebelum ulang tahunku. Kau ingin pulang ke Jogja, merindukan pangkuan ibumu di kampung halaman. Kau tidak berkata apa-apa selain memunggungiku. Aku kira bandara, stasiun, dan terminal adalah tempat paling klasik untuk sebuah perpisahan, sampai aku mengalaminya. Kau inginkan aku mengantarmu, rindu katamu. “Dek, di mana?” “Lagi dengan temen . Pulang jam berapa, Mas?” “Jam tujuh. Kamu ke sini ndak antar aku?” “ Kan udah gede bisa pulang sendiri hehe…” “Sempatkan ke sini, nanti aku rindu.” “Siap. Aku juga enggak jauh kok dari stasiun.” Dan seperti perempuan pada umumnya yang selalu luluh dengan kata-kata manis para lelaki, aku mendapatimu tersenyum senang saat melihatku di depanmu. “Sudah mau berangkat?” “Belum, masih lama. Masih ada waktu sekitar tiga puluh menit lagi. Kamu sudah makan?” “Sudah tadi dengan temen . Terus sekarang mau ngapain ?” ...

Terima Kasih, Senang Mengenalmu.

Sabar ya aku lagi menulis cerita terakhir tentang kita. Iya. Terakhir. Aku sudah tidak mau lagi mengabadikan kamu dalam tulisanku. Kita tetap baik2 saja, tapi................................... Oke selesai. Ceritanya sudah selesai. Tidak bercerita tentang bagaimana kita, tapi tetap saja masih kamu 'kan tokoh utamanya? Kalau kamu ingin mengingat kembali bagaimana kita bisa saling mengenal, bagaimana k ita bisa bertemu untuk pertama kalinya, kamu bisa baca tulisan-tulisanku sebelumnya. Itu semuanya tentang kamu. Sekarang sudah cukup ya. Yang perlu kamu ingat, aku adalah orang yang beruntung bisa mengenalmu, bisa merasakan cinta yang kau berikan, bisa membuat iri orang-orang yang mengenal kita. Sudah tentu, aku bukan orang yang paham tentang bagaimana Tuhanmu, tapi jika benar Sinterklas itu ada, kamu  seperti hadiah yang salah kirim. Kamu adalah hadiah terindah yang pernah dititipkan Tuhan untukku, untuk kemudian dikembalikan kepada hati yang memang seharusnya untukmu. Salam...

Hanya Selasa Pagi...

Gambar
weheartit.com Tak ada yang istimewa pagi itu, seperti biasa kau menjemputku pukul setengah tujuh untuk berangkat ke kampus. Dalam perjalanan kau berbicara, samar-samar yang bisa ku dengar—kau ingin kita selesai. Selama perjalanan, aku berpegangan pada pada pinggangmu. Saat kau ucapkan itu, ku pukul pelan perutmu, ingin kau berhenti bercanda seperti itu. Kau bilang hari ini adalah hari terakhir kau me ngantarku. Tepat setelah kau ucapkan itu, kita sampai di pintu gerbang kampusku. Aku terdiam cukup lama, masih mencerna apa maksudmu, belum turun dari motor. Kau bisa saja menghilang, tapi kau memilih pamit—katamu. Kau tidak bisa mengatasi perbedaan kita, kau tidak ingin aku terluka lebih dalam jika segalanya dilanjutkan.  Siapa yang memintamu menyelesaikan semuanya? Lantas setelah kehilangan, apa aku akan bahagia dan tidak terluka? Kau tahu, keras kepalamu yang membuatku tergila-gila. Seolah kau tahu apa yang ku rasakan dan apa yang terjadi dengan diriku setelah kau tingga...

Putuskan.

Apa kau sedang jatuh cinta? Setiap hari. Apa begitu mudah? Tergantung. Tergantung bagaimana? Sudut pandangmu. Sekarang apa kau sedang jatuh cinta? Aku tidak tahu. Menyukai seseorang? Diam-diam. Sulitkah? Melelahkan. Tapi kau menikmatinya? Sangat. Begitu sudut pandangmu. Hah? Kau yang mempersulit dirimu sendiri. Kenapa tidak katakan? Dia menyukai orang lain. Apa yang membuatmu bertahan? Karena aku bodoh. Ya. Kau memang bodoh karena mempersulit dirimu sendiri. Lalu, aku harus bagaimana? Dunia ini luas, temukan seseorang. Bagaimana caranya melupakan? Aku menyerah. Maksudmu? Aku tidak tahu. Aku menyerah. Bagaimana bisa tidak tahu, kau itu diriku sendiri.

I Hate You

Aku hampir benci, kau pergi saja. Lambat laun, cinta yang kau abaikan ini melangkah ke arah yang salah meski akhirnya masih sama: kamu. Aku ingin menyayangimu diam-diam penuh aksara, berbunga-bunga, mengecap tawamu dari sudut yang tidak pernah kau rasa. Aku ingin katakan tapi tidak berani. Aku diam, tapi tidak tahu diri seolah jiwa ini bernyali. Setiap malam aku sibuk dengan sunyi, kau justru seenaknya datang dan pergi. Meninggalkan jejak di sudut paling kiri raga ini. Aku tidak ingin jadi pembenci. Kau bawa saja egomu yang paling tinggi, lalu kau nikahi. Aku tidak tahu ke depan rasa ini akan seperti apa. Aku ingin lupa, lalu bersamamu mengulang semua dari kata pertama: kita. Menangis lalu tertawa sudah berulang kali aku lakukan, tidak tahu lagi siapa di antara kita yang paling memaksa. Aku harus mundur sejauh-jauhnya, atau kau yang menghilang sampai tidak dikenali lagi oleh isi kepala. Pilih saja. Nanti dulu bicarakan tentang dia, kau pastikan benar-benar pergi hingga jerit hati...

Make A Wish!

Gambar
we heart it Aku tidak terbiasa mengucap selamat untuk siapapun yang mengulang tahun. Kalau diingat-ingat, bisa dihitung jari aku melakukannya—itupun kepada keluargaku. Beberapa hari lalu ada perayaan untukmu. Aku tidak bisa melakukan banyak hal, komunikasi kita terbatas bahkan aku dan kamu sudah jelas mau ke mana setelah ini, kita akan berada di arah yang berbeda. Kini, kau adalah teman yang diam-diam selalu ku pantau. Kau memberiku ruang untuk jatuh hati diam-diam, meski aku tidak berbakat. Aku aminkan segala doa yang kau panjatkan. Bertambah usia adalah di mana kau menabung   mimpi-mimpi baik dari orang-orang di sekelilingmu.  Ada banyak harapan dariku—kau di sana, mari kita aminkan bersama. Segala bentuk semoga yang aku ucapkan tidak akan pernah bisa melampaui senyum ibuk dan cemas bapakmu 25 tahun yang lalu. Di setiap tarikan nafas dan keringat orang tuamu ada keinginan terdalam yang mungkin mereka lupa katakan karena terhalang rengekan sepeda barumu—jadila...