Postingan

Gaje

Halllooooww gess. Hmm... kalian pernah gak sih disuruh orangtua buat beresin barang-barang jaman dulu-jaman baheula-jaman masa kecil-jaman masa-masa sekolah, ya apapun itu pasti pernah dong. Selamat gess you're not alone! So, gue juga ngerasain hal yang sama. Udah dari beberapa hari yang lalu sebenernya gue diminta sama nyokap buat beresin barang-barang gue yang gak kepake lagi, but baru tadi pagi tepatnya sekitar pukul 08.30 WIB gue baru dapat niat yang tulus dari hati yang paling dalam buat ngeberesin my 'unforgettable' stuff. Sebenernya membereskan barang-barang dari jaman dahulu kala-jaman di mana gue jatuh cinta diam-diam sampe berpikir cinta-kita-meleburkan-sejarah tapi yang diliat emak gue cuma cinta monyet anak sekolahan yang masih bau bedak adalah salah satu hal yang paling males gue selesaikan. Now you see, i am a lazy girl. Wait, girl or woman? Whatever. Gils, segitu hinanya perasaan gue di mata emak gue dari jaman putih-biru sampe putih abu-abu. Any...

Aku Tahu Kok Caranya Mundur

Gambar
Aku pernah membutakan diri perihal dirimu, apapun itu. Pernah pasrah dan menjadi airmata untukmu. Aku ingin mengenalmu lebih dari keras kepalamu, hingga ketika dunia melupakanmu, kau akan berlari ke arahku bertanya ke mana tujuanmu. Banyak hal yang ingin ku ketahui tentang dirimu sampai penuh ruas-ruas jemariku dengan ceritamu, sampai tak ada lagi waktu tentang diriku. Aku ingin tahu bagaimana suasana hatimu, makan siangmu, dan pekerjaanmu. Tidak perlu kau dengar kabarku, atau bagaimana aku berusaha mencari kesibukan untuk mengalihkan pikiran tentangmu. Tak satupun berhasil. Cukup aku yang bertanya kepadamu, apa rahasiamu hingga begitu mudahnya pergi dariku kemudian menemukan yang baru. Jika kau ada waktu, mungkin kita bisa bertemu, bukan, bukan untuk memintamu kembali tapi sekedar berbagi bagaimana senyum itu hadir kembali. Bagiku, tidak ada kata selesai untuk apa-apa yang tidak terucapkan. Tapi kau tetaplah dirimu, akan selalu seperti itu. Aku pernah larut dalam gelap hanya u...

Kita Udahan Dulu Ya

Gambar
Apa-apa yang belum tersurat di antara kita sebenarnya sudah tersirat, hanya saja kita terlalu sering berpura-pura. Pura-pura tenang, pura-pura bahagia padahal kita sibuk menunggu rindu datang, menerka-nerka apakah rindu sudah sampai dan tersampaikan di sana. Persamaan kita adalah sama-sama tidak mengerti bagaimana caranya mengekspresikan perasaan tetapi berharap salah satu lebih dulu menunjukkan kasih sayang. Jika benar-benar sayang kenapa takut untuk mengatakan. Kau takut untuk menyakiti perasaan, sedang aku tidak mampu mengartikan kata dan gerak yang kau berikan. Seringkali kita berselisih paham, saat aku tidak ingin kau merasa terganggu sedang ternyata yang paling kau butuhkan adalah aku. Meski begitu, anehnya aku selalu memaafkanmu, tanpa kau minta, tanpa kau tahu. Dan apa yang sebenarnya sudah tersirat membuatku lelah menunggu apalagi ketika ku tahu aku berjuang sendirian untuk menjadikan semuanya sebuah suratan, atau garis tangan yang ku impikan. Meski sudah tersirat, aku...

Hello Goodbye

Gambar
Aku, kamu, dan dia. Tidak apa-apa. Kita semua baik-baik saja. Kalau ada apa-apa, berarti dari kita saja yang mengada-ada. Atau kalau readers gak suka, kalian saja yang terlalu perasa. Santai saja, ini cuma cerita belaka. Kalaupun ada kesamaan, mungkin penulisnya tidak sengaja. Masih tentang cinta-cintaan yang ditulis oleh seorang perempuan yang belum pernah pacaran. Seriusan? Bercanda. Jadi bercanda nih? Beneran juga gapapa. Err jadi bener apa bercanda sih? Beneran bercanda. Auk ah. Halo kamu! Iya kamu. Kamu yang di sana, yang tinggal di tengah-tengah pulau Jawa, yang hilang begitu saja, yang datang dan pergi secara suka-suka, yang meninggalkan tanya, yang memberi luka, dan yang diam-diam aku suka. Kamu yang beberapa bulan terakhir dengan sotoy nya aku sebut sebagai gebetan, padahal kamu seringkali tanpa kabar, kadang-kadang terdengar kabar, besok kasih kabar, lusa hilang lagi. Kamu yang perhatian, selalu cha t duluan, seringkali buat aku tenang, sukanya tany...

Semoga Tulisan Ini Terbaca Olehmu

Gambar
Aku masih di sini, jika kau kembali. Masih perempuan biasa yang bodoh menunggumu, berharap kau masih laki-laki yang penuh cinta. Laki-laki yang mampu membuatku tertawa di saat aku patah hati berkali-kali dan terluka. Aku masih di sini, jika kau kembali. Duduk di kursi kita, yang dulu hangat kini mulai renta dimakan senja. Setiap hari mengulang memori pada tiap foto yang banyak menampung cerita. Aku masih di sini, jika kau kembali. Sibuk berprasangka kau sedang apa, dengan siapa. Berpura-pura bahagia, semua baik-baik saja, dan berjalan sempurna. Mungkin kau di sana sedang sibuk berjuang apa saja, memperjuangkan siapa saja. Bukan aku, bisa jadi dia. Entah dia siapa yang ku bentuk sebagai rasa takut kehilanganmu. Mungkin kau di sana sedang menggandeng tangannya. Bukan kewajibanmu harus kembali, menjelaskan semuanya kemudian merangkulku. Yang sebenarnya terjadi adalah kau tidak tahu aku menunggumu. Suka-suka dirimu mau memeluk siapa, pergi diam-diam atau bersuara. Tidak sepantasny...

Bertemu Untuk Berpisah

Gambar
taken by: Nyoman Suarningrat Bodoh. Bertemu kemudian berpisah. Untuk apa? Berpisah tapi masih merasakan saling. Untuk apa? Memang. Tidak pernah ada kita. Tidak. Pernah. Jika ada yang menyebut aku dan kamu adalah kita, sudah pasti bukan kita. Hanya orang-orang yang berprasangka, kemudian dengan egois aku dan kamu mengamininya. Sebenarnya, banyak kesempatan untuk kita bisa bertemu. Tapi kau tahu, Tuhan Maha Bercanda, banyak pula kesempatan yang membuat kita tidak bisa bertemu. Kita hampir putus asa dengan keadaan. Aku di mana, kau ke mana. Kau sedang apa, aku bersama siapa. Aku bisa, kau kesulitan. Aku dan kamu tujuannya sama, tapi semesta yang tidak suka. Begitu terus sampai berhari-hari kita diam tanpa kabar. Jenuh dengan kata-kata yang itu-itu saja, bosan dengan janji-janji siapa. Tapi aku masihlah perempuan biasa, yang begitu perasa dan tidak tega membiarkanmu pergi diantar senja sendirian. Tidak seperti perpisahan sebelumnya, di mana kau membiarkanku menunggu diri...

Selalu Bersamamu

Beberapa minggu terakhir aku seperti menarik diri entah karena apa. Dada begitu sesak, kepala tidak henti-hentinya bersuara, sedang bibir tanpa sepatah katapun. Aku tidak mengerti, mengapa aku begitu keras kepala tidak mau berbicara kepada siapa saja selain Dia yang mau menangkap doa. Begitu keraskah semesta sampai aku hanya mampu berpura-pura tertawa di depan mereka. Aku ingin membenci mereka yang bisa menangis ketika kesal, tidak hanya diam ketika marah. Aku kewalahan menuruti keinginan diri tanpa kutahu kemana ego membawaku pergi. Aku ingin tenggelam dalam keramaian, mengalihkan pesta di dalam badan sebab seringkali kepalaku menyumpahi diri sendiri. Di lain waktu aku ingin menyepi, mendapati diriku mencari kepastian hati, pada ucapan terbata-bata di depan lelah dan airmata. Kapan terakhir kali aku berdamai dengan diri sendiri? Entahlah. Mungkin ini saatnya aku menyapa seseorang dalam diriku, perempuan kecil yang sudah lama kutinggalkan, karena dia adalah siapa-siapa ketika aku ...