Postingan

Last Words

Gambar
Seandainya suaramu tetap jatuh ke bumi Suaramu curam dan menghanyutkan Suaramu lebih luas dari ranjang Suaramu adalah puisi Andai... suaramu tidak mati bunuh diri. Masihkah suaramu sepotong lagu? --- Apa aku bukan orang yang spesial untukmu? Sampai kapan kita hanya berteman? Karena kamu takut kehilanganku? Kalau begitu aku bisa saja bersama dengan orang lain, pun kau. Tidak apa-apa? Apa itu yang benar-benar kau inginkan? Kau seperti mimpi. Aku tidak tahu harus bagaimana jika ada kehidupan yang kau lalui tanpa ada aku di sana. Aku mungkin tidak menyadari selama ini bahwa degupan hati ini hanya untukmu. Aku hanya ingin selalu bersamamu. Buatmu, semua ini mungkin tidak masuk akal untuk menerimaku di hatimu. Kau bertingkah seperti tidak peduli, tapi ketika aku menatapmu kau tidak berpaling. Aku bisa saja mengatakan cinta, tapi aku ingin tahu sebenarnya apa yang kau rasakan? Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku benci melihatmu bersama orang lain. Aku taku...

Cuma Perihal Pulang

Gambar
Umpamakan seandai - andainya, lalu punggung itu hilang entah mati tenggelam dalam warna senja atau justru pulang. Dia kebingungan, pohon mangganya hilang. Dia diam, memperhatikan dari atap gedung berlantai 23, titik - titik berjalan berlawanan arah di bawah dan bunyi klakson 'lupa' tahu diri. Sekali lagi, di depan matanya, dia duduk di bawah pohon mangga kesayangan sambil jemarinya memainkan nada tak beraturan pada seruling pemberian baba. Uwang, panggilan untuk kerbaunya, sedang makan enak rumput bukit yang belum tercemar. Sawah - sawah milik pak erte membentang luas seperti ingin tumpah ke pelupuk matanya. Hijau. Kuning. Hijau. Kuning. Kuning. Hijau. Ku…rang ajar! Dia kepanasan. Tidak ada penghalang untuk terik. Yang ada hanyalah kotak -kotak bodoh, tinggi, tak berbaju di depan matanya. Dia memutuskan untuk turun, menggunakan lift, lagi - lagi 'kotak' berjalan. Semuanya hanya permainan dekorasi, padahal bentuk dasarnya tetaplah kotak. Terburu - buru, dia me...

Dekat

Gambar
Keberadaannya seringkali diabaikan. Padahal banyak cerita terlahir dari sana, baik pertemuan maupun perpisahan. Ada rindu yang jatuh satu demi satu. Ada langkah yang terburu - buru entah untuk berpisah atau bertemu. Tak jarang pula, langkah yang buntu dan airmata terjatuh. Ada pula wajah yang sendu, kemudian disusul dengan hati yang menggebu - gebu. Di lain waktu, beberapa langkah terhenti kemudian duduk termangu. Kau dengan kesederhanaanmu, menikmati lakon dunia, melihat seonggok antagonis tak berdaya dilucuti satu per satu oleh gengsi sendiri. Kekasihnya mungkin memilih pergi, atau menolak diri untuk menyelesaikan sebuah ending bersama si antagonis yang tak mau mengerti. Lalu hari - hari mulai berlalu, cerita terus menghampiri, dan kau, masih kokoh di singgasanamu, mengenal satu per satu jejak kaki yang menginjak - injakmu. Keberadaannya tak berarti apa - apa, diam, tapi sebenarnya menghubungkan. gambar: http://data.whicdn.com/images/197050549/large.jpg

Dongeng untuk Raja

Gambar
Terimakasih. Kaulah jawaban atas segala yang tak pernah kupertanyakan. Selepas senja, kau bawa aku untuk melunasi hasrat Maghrib berdua. Kau adalah bayangan itu, bayangan yang kutunggu di ujung sajadahku. Satu shaf di belakangmu adalah jarak yang paling kusyukuri. Setelahnya dua cangkir kopi dan sekaleng kerupuk kulit menjadi saksi saat kau letakkan nafasmu di ujung keningku. Kau adalah garis petang yang tak pernah ingin kusudahi. Kau mencuri segala sunyi dalam malamku yang sepi. Kau hangatkan pagi kala mendung melangkahi matahari. Kau adalah sebuah keinginan yang tak terdengar. Membangunkan doa-doa di balik pintu yang deritnya tak lagi muda. Kau tetaplah seorang kepala keluarga yang lucu seperti biasa. Kau seringkali lupa memakai baju hingga malam menjelma terang di sela-sela sepah kelapa, atap rumah kita. Kemudian, dua bintang yang kau petik kala usiaku masih muda menertawaimu selebar bakul nasi yang kau biarkan tumbuh di tungku api, bukti bahwa kau kini seorang ayah. ...

Introvert

Gambar
Scene "Cheese In The Trap" Sebenarnya, kau itu orang yang seperti apa? Kau bilang kita sama. Tahun ini adalah tahun kedua, angkatan 2012. Dan ini adalah tahun keempatmu. Intensitas pertemuan kita mulai berkurang. Kau mulai sibuk dengan aktivitas magang di perusahaan ayahmu. Dan aku masih berkutat dengan tugas individu dan kelompok. Besok kau akan foto wisuda. Maaf. Aku tidak bisa hadir karena ada kuliah. Kau pun berada di kelas yang sama denganku. Kau tahu kan? Dosen yang memberiku nilai D untuk pertama kali selama aku kuliah. Tidak mungkin aku tidak hadir. Ada presentasi yang tidak bisa kutinggalkan. Aku tidak ingin mengulang seperti temanmu yang lain. Aku harap kau jangan lama-lama, aku tidak ingin kuliahmu yang lain tertinggal. Sebenarnya, kau itu orang yang seperti apa? Februari adalah bulan kelima kita. Ternyata kita berbeda. Atau waktu yang belum kembali. Aku tidak tahu apa cita-citamu. Ketika ku tanya apa yang ingin kau lakukan 5 tahun mendatang...

Entah

Gambar
Jadi, ceritanya kemarin saya berangkat ke sana untuk bertemu kamu. Sesampainya di sana, saya melihat kamu sedang asyik pacaran. Saya hanya melihat sekilas sambil tersenyum. Kemudian saya pergi makan siang bersama teman-teman. Setelahnya, saya kembali ke tempat dimana kamu sedang bersama wanitamu. Saat itu, kamu sedang tertawa. Saya tidak tahu apa yang sedang kalian bicarakan, yang jelas lagi-lagi saya hanya bisa melihat sekilas sambil tersenyum. Kemudian saya menonton bersama teman, mencoba untuk mengalihkan pikiran saya tentang kamu. Saya hanya punya 5-10 kata dan memakan waktu sekitar 5-10 menit bersamamu. Pun tidak dilakukan secara rutin. Saya tidak pernah punya keberanian lebih untuk mendekatimu.  Sekitar 15 menit kemudian, saya meregangkan leher dan terkejut kamu ada di belakang saya. Saya tidak tahu sudah berapa lama kamu ada di sana. Kamu tersenyum sambil melambaikan tangan. "Hai", katamu. Dalam hati, saya ingin melompat memelukmu. Tetapi saya hanya bisa terseny...

Gila

Gambar
Aku akan menanti pertemuan kembali di sini atau di kedai buku lain, dalam genap bersamamu. Kau tahu  maksudku, tidak dengan wanitamu. Aku memang wanita yang menyukaimu, sesunyi mungkin bahkan kau tak mengenal bunyi sepatuku. Lebih diam serupa angin yang menepis ujung keningku. Aku tidak bisa lagi mengutuki apa-apa sebab rindu sudah berkawan dengan malam, menjelma sepi di ujung-ujung mataku yang basah. Surat sudah kukirim pukul sebelas, namun percakapanmu dengannya sampai larut di bibir cangkir. Jadi, wajar bagiku untuk menatapmu sangat lama demi manis yang kuhirup dari kopi pertama. Aku tidak ingin melihatmu pagi ini dengan sisa remah-remah roti di kerah bajumu. Aku tidak ingin kau menyisir rapi rambutmu. Aku tidak ingin melihatmu tersenyum pagi ini dan dia sebagai alasannya. Aku biarkan segala inderaku menujumu. Aku tunggu sampai kau tidak lagi menggulung selimut bersamanya dan berlari ke arahku, mengecap manis pada bibirku yang basah. Aku pastikan kau adalah pulang unt...