Postingan

selamat ulang tahun (3)

Gambar
Betapapun aku mengerti ada gema yang begitu ringkih untuk lelah yang kau tahan. Tatapan cemas yang lahir dari tawamu yang terkadang mencipta sungai di mataku pelan - pelan. Jika katamu dingin dan panas menenangkan, lalu ada rasa bersalah yang lebih besar dari segumpal tangan ketika anak perempuanmu demam dan kau beri pelukan. Kau paling tahu musim mana yang harus kami lewatkan, kerikil mana yang harus kami bawa pulang, dan duri mana yang sebaiknya kami biarkan tertelan. Untuk jarum jam yang terus berputar ulang, ada banyak celotehan kita yang kerap kita tinggalkan dalam toples - toples di atas meja makan. Doaku untukmu tak pernah tumbuh besar melebihi doamu untuk anak - anakmu, begitu panjang melebihi lintasan dari bumi ke bulan. Pada rahimmu yang paling ibu, ada sejuta doa yang kau panjatkan membuka akar pikiran bahwasanya menjadi kuat bukan hanya sekedar bisa mematahkan lengan. Pada senyumanmu yang bisu, kau mengajariku untuk menjadi yang paling mengerti pada hati dan piki...

Kisah Lain; Fatimah dan Ali

Gambar
Kau adalah pulang yang dia tunggu. Selayaknya rumah, itulah mengapa ia tak pernah pindah, karena ia tahu dirinya tempat pulangmu menuju. Anggaplah saat ini kalian adalah perantau karena ada kalanya rumah butuh sendirian. Pun kalian, perlu waktu untuk menyesap rindu di bibir cangkir untuk jarak yang memberi satir. Kalian perlu cara paling picisan untuk membuktikan bahwa perasaan kalian kuat, lebih kuat dari derit pintu yang terbuka-dengan-kalian-berjauhan- pada rumah sebagai pulang untuk mereka yang lelah dan menghabiskan detik - detik tubuh yang menunggu pasrah. Perantau bukan untuk datang kemudian hilang, tetapi ia pergi untuk kembali. Jadi, tenanglah karena dengan berjauhan pun adalah cara perantau untuk kembali pulang. Untukmu yang belum 'pulang' Mungkin sampai kapanpun tulisan ini takkan mampir di pelupuk matamu. Ingatkah denganku? Aku bertanya pada fotomu, pada sejarah yang belum selesai kau tulis di layar segi empat. Aku ini perempuan yang luruh pada lengan...

Kau Akan Membencinya

Gambar
Kau akan membencinya; serupa dia membenci hari ini, dimana kau mengikat cinta untuk yang lain dengan kilau yang melilit di jari manismu. Kau akan membencinya, serupa ia membenci hari ini, dengan sengaja melepas tanganmu yang melingkar di pinggangnya. Katanya, kau bukan lagi tangan mungil yang menarik - narik bajunya, sedang wajahmu mengarah ke toples gula. Sekuat yang dia bisa, tersenyum dipecundangi waktu bahwa kau kini wanita dengan pilihan. Langkah kalian tak lagi sama, ia membelakangimu jauh. Begitu jauh agar melupa bahwa kini kau adalah wanita yang kuat bersama kerajaan barumu. Tak terlihat, perlahan mahkota itu ia lepas dari kepalanya, sedang tangannya yang lain gemetar karena menahan airmata. Ia tak ingin lemah pada hari ini dimana kau membencinya. Membenci ketidakhadirannya, semoga kau paham ini takkan mudah baginya. Melihatmu memeluk wanita lain yang kini akan menikmati tawamu setiap hari, kau beri pelukan hangat yang sama untuk wanita dari rajamu. Di kepalamu, ia...

Rabu

Gambar
Sejak selasa malam aku sudah sibuk memilih mana pakaian yang akan kugunakan besok untuk kuliah. Tentu ini bukan alasan yang pertama, niatku mencari ilmu justru tertimpah oleh bayangan rabu yang penuh kamu. Jangan tanya perihal tidurku. Yang kutahu, hari sudah pukul delapan pagi dan tubuhku sepenuhnya sudah berada di kampus. Kau tampak serius membaca buku, membolak-balik halaman dan sesekali memejamkan mata. Selalu aku menjadi tokoh utama perihal-menatapmu-dari-jauh. Kemeja pink terbalut manja di tubuhmu, kukira perasaan kita sama, berbunga - bunga . Aku setia menontonmu, memperhatikan gerak bibirmu ketika berbicara dengan lawanmu. Hari itu, kau sedang berjuang mempertahankan pendapatmu. Hiruk - pikuk seperti menjauh, yang ada hanya suaramu seperti residu kopi yang selalu menunggu. Kau tak dimenangkan oleh mereka, namun kau tetap memenangkan aku yang antusias menyaksikan segala pikiranmu tumpah dalam kata. Aku berjalan mendekat, ingin menyapamu. Nyatanya, tanganmu telah sampai...

Perayaan

Gambar
Hidup kita adalah perihal merayakan kebetulan-kebetulan yang disiapkan Tuhan. Kamu yang mengisi bangku kosong di belakangku, sedang aku menikmati sore yang ganjil di kedai kopi sendirian, kita menepi dari riuh yang berlari-lari. Saat itu aku tak paham, Tuhan sedang bekerja. Buku menu yang biasanya tersedia di semua meja, entah mengapa saat itu tak ada di tempat yang kau pilih - dan hanya meja yang kau tempati tidak tersedia buku menu! Lihat? Kita berdua sedang merayakan kebetulan dari Tuhan. Kau menyentuh bahuku, mengejutkanku yang sedang mencari pulang. Dalam jarak yang cukup dekat, satu persatu mulai masuk mencari tempat di dalam memori ingatanku - aroma tubuhmu, lekuk wajahmu, sinar mata, dan getar suaramu saat meminjam buku menu. Segala kebetulan yang tak pernah ingin kupahami sampai saat ini, biarlah begitu saja… mencipta lintasan yang tak pernah pasti sebagai kenangan yang akan terus berotasi. Selanjutnya, kita terus berpesta merayakan kebetulan. Aku yang pada awalny...

BERJALAN BERSAMA MEREKA

Gambar
Sembari menunggu senja yang pelan-pelan masuk ke dalam semesta, sebelum akhirnya malam datang bersama kesunyian diam-diam menggelitik manusia dengan mimpi bahagia. Saya menulis. Setelah seharian diguyur terik, menjejali Jakarta dengan hangat yang berlebih dan jalanan yang lupa untuk sepi. Saya menulis. Setiap yang bernyawa sudah seharusnya bahagia, dan setiap bahagia sudah seharusnya kau bagi secara cuma-cuma. Saya menulis tentang mereka, orang-orang hebat yang setiap hari, jam, menit, dan detiknya memberikan kebahagiaan untuk dikonsumsi secara sukarela. Ya, mereka, seperti yang kau lihat adalah orang-orang yang tak pernah puas bahagia, dan saya adalah salah satu orang yang paling beruntung bisa menikmati cinta mereka tanpa harus mengantre lama, mengeluarkan berlembar-lembar angka untuk mendapatkan secarik kertas tipis sebagai syarat menonton pertunjukkan pantomim tertawa. Mereka adalah teman dengan segala maknanya. Teman dengan tingkatan bersyukur yang jauh tinggi meleb...

MENYELAMI DELAPAN PULUH HARI

Gambar
Biarlah malam yang patah, Sedang aku, kau bilang adalah rumah untuk dadamu yang lelah. Pelukanku ada pulang untuk punggungmu yang ingin rebah. Aku terlalu lemah, tak bisa menolak lengan-lenganmu yang merengkuh pasrah. Biarlah malam yang resah, Segala desah dan detak di nadi kita membuat malam semakin jalang. Senja dikubur begitu cepat hingga garis petang yang tak ingin kita pulangkan justru hilang.  Hujan dan dingin didatangkan, namun buat kita, segala berisiknya adalah gurauan para bintang. Terkadang aku menunggu, sisa-sisa parfum dalam dekapmu. Terkadang aku merindu, kau mabuk cepat-cepat mengecup keningku seraya bilang, "aku cinta kamu", seperti dulu bagaimana kita bertemu. Waktu itu, aku termangu, hanya memperhatikan wajahmu yang semakin malam semakin layu, terjebak dalam pundakmu yang lelah. Kau ucapkan tiga kata itu kembali karena kau heran masih tak mendengar jawabanku. Aku sibuk sendiri, mencoba melerai pikiran dan hati yang saling berteriak di ...