Postingan

19

Gambar
Untukmu yang dewasa, Sore ini habis dengan diam. Meski begitu, entah untuk menit keberapa senyum ini selalu mengembang. Seratus delapan puluh derajat di depanku, kamu, membuatku berdebar-debar menunggu setiap kejutan pada sepotong cerita yang akan kita ciptakan. Senja yang indah, senja yang cerah seperti mengulang pagi, membiarkan kita mengecupi syahdunya satu persatu. Wajahmu yang cemberut sembari menjamah setiap lekuk cameramu yang seksi, tak ayal membuatku liar dalam dunia khayalku. Bisa kau lebih buruk dari ini? Apa tidak bisa kau tunjukkan sifat jahatmu agar aku tak lagi terkunci pada sosokmu? Semakin kau diam, semakin aku ingin melakukan pikiran liarku. Melumat bibirmu, menciumi kedua matamu, mengecup keningmu, merasakan hidup pada setiap helai rambutmu, memelukmu, menikmati aroma tubuhmu. Aku terus memperhatikanmu, menelanjangi satu persatu kemagisanmu yang kau sembunyikan pada setiap lekuk tubuhmu. Hatiku membuncah, melompat sana-sini menikmati percikan-percika...

Aku Mencari Aku

Gambar
Aku rindu dirimu. Rindu tawamu yang memecah hening meski tidak berkeping-keping. Rindu pada dirimu yang melawan gravitasi, lompat sana-lompat sini. Aku rindu senandung suaramu yang tidak pernah berhenti melebur A sampai Z, mengulangnya kembali begitu terus sampai kau lelah. Kau beri jeda pada malam, lalu kau kembali mengulang senyum, tawa dan nyanyian ketika pagi menculik bulan. Kau berpetualang pada bosan, bagimu menaklukkan monoton adalah hal menyenangkan. Aku suka tingkahmu bersungut-sungut memecah sepi. Bagimu, cukup mandiri saja yang membawamu sendiri dan keangkuhanmu pada sepi membuatku berempati menemani. Meski begitu, sesekali dirimu masih bermanja ria untuk mengecup sedikit kasih sayang mereka yang menyayangimu tanpa terkecuali pembencimu. Aku ingin bertemu dengan sifatmu yang tidak pernah berpura-pura meski kau berada di dunia yang menomorsatukan kepalsuan. Ingin kuculik apa adanya dirimu, bahkan ketika dirimu melucuti satu persatu kesombongan dan kebinatanganku di...

Jadi Tak Biasa

Aku melangkah cepat, sebisa mungkin  tak menghabiskan waktuku di tempat ini. Delapan jam sudah membuatku muak dengan segala aktivitas yang selalu bisa kuprediksi setiap hari. Terkurung dalam kursi yang tak lebih besar dari tubuhku, memasang wajah lugu pada dosen yang tampak pengecut. Dosen yang bayangannya pun tak pernah berhasil ku bentuk dalam pikiranku, hanya sebaris nama absurd dengan segala gelar rapuh yang akan pecah ketika nanti menyentuh tanah. Hanya selirnya yang sibuk mengurusi kami seperti pengawal istana dengan tugas yang tak berjeda, me monoton i pikiran kami yang warna-warni. Ah, sudahlah... jangan sampai aku benar-benar muntah. Langkahku terbagi dengan kedua tangan yang sibuk merapikan isi tas, penat memaksaku tak perlu berbasa-basi lagi di dalam kelas.  Tapi itu semua tidak menganggu konsentrasi gravitasiku untuk menuju seseorang, yang kuharap bisa membuka mataku bahwa ada yang menyenangkan di balik kata bosan . Mungkin itu hanya perkiraanku. Tidak untuk h...

Perkara Bangun Tidur

Pagi yang hampir habis menggelitik tengkukku hingga aku terbangun dan mendapati dirimu di ujung wajahku. Yang semula pipi menjamah dadamu kuganti dengan dagu demi melihat wajahmu utuh. Matamu mengerjap-ngerjap, mengalimatkan dilema pada bidadari dalam mimpi sedang mentari di ujung pagi memanggilmu. Aku memperhatikanmu lamat-lamat, menekuni setiap lengkung bibir dan alismu yang sahih ketika tersenyum pun tertawa. Sesekali kusentuh ujung rambutmu yang berantakan, kau menggeliat mendekapku membuatku kewalahan. Kau mengunci pergerakkanku dan aku terlena memperhatikan pulas pada wajahmu bak bayi lucu tanpa akhir, jenaka tak berdosa. Tak tampak beringas semalam yang membuat dingin berpeluh dan ritme nafas kita yang menyatu. Kau berikan merk-merk duniawi saat gelap menciumi pagi yang perawan di ambang batas. Aku mendaratkan kecupan bertubi-tubi, seperti rusa yang lari mati-matian dari singa dan dengan mata yang masih terpejam, kau tersadar. Kau sihir aku dengan lengkungan sabit yang kau ...

Tetap Teman

Pertemuan ini memang kejutan dari Tuhan. Perkenalan, PDKT-an sampai dua belas bulan. Aku tidak tau apa yang sudah berjalan ternyata tidak ada tujuan. Kita tetap teman. Enam bulan terakhir entah karena apa tiba-tiba kita berjauhan. Membuatku menerka-nerka jangan-jangan selama ini hanya aku yang berjuang sendirian. Akhirnya aku putuskan untuk menghilangkanmu dari pikiran, meski mustahil berhasil kulakukan. Mustahil untuk menghilangkan, mungkin lebih kepada melupakan. Melupakan apa yang dulu menjadi harapan sehingga sekarang aku sibuk mengurusi sakitnya ditinggalkan. Semesta mungkin mendukungku, semester tiga dengan jadwal yang berantakan dan tugas yang tak beraturan membuatku lambat laun melupakan semua yang telah kita ciptakan. Tatapan, genggaman, dekapan, belaian, dan semua yang telah kamu berikan. Meski berurai airmata, aku menyadari ini semua adalah realita yang harus kuterima. Kita tetap teman. Bahkan untuk menyebut 'teman' pun membingungkan. Tidak ada lagi percakapan, ...

Hari Ibu Di Jalanan

Pulang kuliah, 15.40, metromini. Gerimis menyentak, setelah beberapa saat hujan turun deras berduyun-duyun mencumbui tanah. Percikan-percikan airnya seolah menunjukkan kebahagiaannya mampu menyentuh bumi, mampu mendekap apa yang kupijak. Melihat kemesraan mereka, memikirkan filosofi keduanya, membuatku mau tidak mau mengingat kamu. Tanah yang keras melembut ketika hujan memeluknya. Meskipun hujan bukan lagi milik kita, tetapi aku masih merasakan kamu di setiap tetesnya. Aroma tanah basah semakin menjebakku dalam kenangan yang kita ciptakan bersama hujan. Lalu secepat berkedip, gerimis mencairkan suasana. Ini bukan lagi tentang hujan, kamu dan kita. Aku berlari-lari kecil keluar dari gedung, menciptakan gerakan otomatis mengangkat sebelah tangan menutupi kepala. Langkah kakiku yang cepat menyibak-nyibakkan air dari genangan yang diciptakan hujan, menyisakan kenangan untuk tanah. Sesampainya di halte, aku membersihkan pakaian dengan sapuan-sapuan kecil tangan yang dingin. Hanya ger...

Ayah, kurindukanmu di Hari Ibu

Hi, ayah! Bagaimana kabarmu? Aku percaya kau baik-baik saja. Dua tahun. Terasa waktu begitu cepat berlalu, tapi tak jarang lain waktu aku merasakan waktu berjalan begitu lambat. Sudah dua tahun aku tumbuh tak bersamamu. Tentu berbeda, tetapi aku percaya   senyummu di atas sana memperhatikanku. Cahayamu melalui bintang mengawasiku,   dan kau tetap melihatku di balik kedua bola mata calon bidadari surga-mu, mama. Dalam setiap langkahku, aku percaya ada ayah yang searah denganku. Tenang… kau tidak perlu khawatir ayah, aku tidak sedang mengetik handphone di tengah jalan. Aku berada di kamar, daritadi bidadari surgamu   sedang menyisiri rambutku, dan seperti biasa sibuk bertanya ini-itu apa yang kulakukan dengan laptop ini yang dulu sering juga ayah lakukan. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Selalu menyenangkan. Aku masih berada di jalurmu, menyelesaikan masalah dalam diam. Begitu tenangnya, sampai-sampai masalah tidak tahu kalau aku sedang berusaha menyingkirkannya....