Postingan

Jadi Tak Biasa

Aku melangkah cepat, sebisa mungkin  tak menghabiskan waktuku di tempat ini. Delapan jam sudah membuatku muak dengan segala aktivitas yang selalu bisa kuprediksi setiap hari. Terkurung dalam kursi yang tak lebih besar dari tubuhku, memasang wajah lugu pada dosen yang tampak pengecut. Dosen yang bayangannya pun tak pernah berhasil ku bentuk dalam pikiranku, hanya sebaris nama absurd dengan segala gelar rapuh yang akan pecah ketika nanti menyentuh tanah. Hanya selirnya yang sibuk mengurusi kami seperti pengawal istana dengan tugas yang tak berjeda, me monoton i pikiran kami yang warna-warni. Ah, sudahlah... jangan sampai aku benar-benar muntah. Langkahku terbagi dengan kedua tangan yang sibuk merapikan isi tas, penat memaksaku tak perlu berbasa-basi lagi di dalam kelas.  Tapi itu semua tidak menganggu konsentrasi gravitasiku untuk menuju seseorang, yang kuharap bisa membuka mataku bahwa ada yang menyenangkan di balik kata bosan . Mungkin itu hanya perkiraanku. Tidak untuk h...

Perkara Bangun Tidur

Pagi yang hampir habis menggelitik tengkukku hingga aku terbangun dan mendapati dirimu di ujung wajahku. Yang semula pipi menjamah dadamu kuganti dengan dagu demi melihat wajahmu utuh. Matamu mengerjap-ngerjap, mengalimatkan dilema pada bidadari dalam mimpi sedang mentari di ujung pagi memanggilmu. Aku memperhatikanmu lamat-lamat, menekuni setiap lengkung bibir dan alismu yang sahih ketika tersenyum pun tertawa. Sesekali kusentuh ujung rambutmu yang berantakan, kau menggeliat mendekapku membuatku kewalahan. Kau mengunci pergerakkanku dan aku terlena memperhatikan pulas pada wajahmu bak bayi lucu tanpa akhir, jenaka tak berdosa. Tak tampak beringas semalam yang membuat dingin berpeluh dan ritme nafas kita yang menyatu. Kau berikan merk-merk duniawi saat gelap menciumi pagi yang perawan di ambang batas. Aku mendaratkan kecupan bertubi-tubi, seperti rusa yang lari mati-matian dari singa dan dengan mata yang masih terpejam, kau tersadar. Kau sihir aku dengan lengkungan sabit yang kau ...

Tetap Teman

Pertemuan ini memang kejutan dari Tuhan. Perkenalan, PDKT-an sampai dua belas bulan. Aku tidak tau apa yang sudah berjalan ternyata tidak ada tujuan. Kita tetap teman. Enam bulan terakhir entah karena apa tiba-tiba kita berjauhan. Membuatku menerka-nerka jangan-jangan selama ini hanya aku yang berjuang sendirian. Akhirnya aku putuskan untuk menghilangkanmu dari pikiran, meski mustahil berhasil kulakukan. Mustahil untuk menghilangkan, mungkin lebih kepada melupakan. Melupakan apa yang dulu menjadi harapan sehingga sekarang aku sibuk mengurusi sakitnya ditinggalkan. Semesta mungkin mendukungku, semester tiga dengan jadwal yang berantakan dan tugas yang tak beraturan membuatku lambat laun melupakan semua yang telah kita ciptakan. Tatapan, genggaman, dekapan, belaian, dan semua yang telah kamu berikan. Meski berurai airmata, aku menyadari ini semua adalah realita yang harus kuterima. Kita tetap teman. Bahkan untuk menyebut 'teman' pun membingungkan. Tidak ada lagi percakapan, ...

Hari Ibu Di Jalanan

Pulang kuliah, 15.40, metromini. Gerimis menyentak, setelah beberapa saat hujan turun deras berduyun-duyun mencumbui tanah. Percikan-percikan airnya seolah menunjukkan kebahagiaannya mampu menyentuh bumi, mampu mendekap apa yang kupijak. Melihat kemesraan mereka, memikirkan filosofi keduanya, membuatku mau tidak mau mengingat kamu. Tanah yang keras melembut ketika hujan memeluknya. Meskipun hujan bukan lagi milik kita, tetapi aku masih merasakan kamu di setiap tetesnya. Aroma tanah basah semakin menjebakku dalam kenangan yang kita ciptakan bersama hujan. Lalu secepat berkedip, gerimis mencairkan suasana. Ini bukan lagi tentang hujan, kamu dan kita. Aku berlari-lari kecil keluar dari gedung, menciptakan gerakan otomatis mengangkat sebelah tangan menutupi kepala. Langkah kakiku yang cepat menyibak-nyibakkan air dari genangan yang diciptakan hujan, menyisakan kenangan untuk tanah. Sesampainya di halte, aku membersihkan pakaian dengan sapuan-sapuan kecil tangan yang dingin. Hanya ger...

Ayah, kurindukanmu di Hari Ibu

Hi, ayah! Bagaimana kabarmu? Aku percaya kau baik-baik saja. Dua tahun. Terasa waktu begitu cepat berlalu, tapi tak jarang lain waktu aku merasakan waktu berjalan begitu lambat. Sudah dua tahun aku tumbuh tak bersamamu. Tentu berbeda, tetapi aku percaya   senyummu di atas sana memperhatikanku. Cahayamu melalui bintang mengawasiku,   dan kau tetap melihatku di balik kedua bola mata calon bidadari surga-mu, mama. Dalam setiap langkahku, aku percaya ada ayah yang searah denganku. Tenang… kau tidak perlu khawatir ayah, aku tidak sedang mengetik handphone di tengah jalan. Aku berada di kamar, daritadi bidadari surgamu   sedang menyisiri rambutku, dan seperti biasa sibuk bertanya ini-itu apa yang kulakukan dengan laptop ini yang dulu sering juga ayah lakukan. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Selalu menyenangkan. Aku masih berada di jalurmu, menyelesaikan masalah dalam diam. Begitu tenangnya, sampai-sampai masalah tidak tahu kalau aku sedang berusaha menyingkirkannya....

'Miss'ing You

Kamu tak akan mengerti saat dirimu dipenuhi sesal dan keluh kesah tapi tetap merindu. Sekalipun aku terbiasa, tak bisa ku tepis, aku mengeluhkan jarak yang tercipta saat ini. Tak bisakah kau melembut untuk saat ini saja ? Menyentuh rinduku, mendengar segala keluh kesahku. Aku tidak mengerti, dulu, entah bagaimana caramu bisa membuatku lemah dan kuat di saat yang bersamaan. Mungkin terdengar mustahil, tapi itulah yang kurindukan darimu sekarang. Hadir di sini, dengan caramu yang sama membuatku tetap merasa dimanja tapi kuat menghadapi semua masalahku. Tatapanmu membuatku nyaman mengeluarkan semua tekanan yang sedang menyerangku, kamu berikan sandaran untukku beristirahat sejenak sebelum berjuang kembali menghentikan semua mimpi burukku, senyumanmu membuatku kuat dan berani menghapus airmataku sendiri. Kamu berdiri, berteriak mendukung dan bertepuk tangan sebagai penonton melihatku menjadi pemenang atas semua masalahku. Kamu tidak pernah menuntutku menjadi wanita hebat dalam segala h...

Cinta Di Mention Fiesta

Maaf jika postingan ini berbeda. Terselip banyak rekayasa, tidak sesuai realita. Tapi jujur aku suka dan tidak mengada-ada. Aku pengisi mu, begitu juga teman-temanku adalah bagian darimu. Manajemen pendidikan. Kamu seperti lagu. rumah kita sendiri. Selamat! Kamu telah berhasil menjadi rumah untuk kami. Tempat kami meletakkan sembilu, pilu dan kelu tanpa ragu. Tempat kami berkeluh kesah, lelah dan marah-marah. Tapi tidak hanya duka, kamu berikan kami cinta. Mention fiesta. Kamu (manajemen pendidikan) tau di saat kami lelah dengan tugas kuliah, kamu menghibur kami. Begitu meriah, buat hari-hariku cerah. Mention fiesta adalah bentuk penghiburanmu kepada kami. Kamu berikan serangkaian acara penuh suka cita. Memang tidak setiap acara aku ada. Tapi tak apa, karena kamu dan acara ini sudah berhasil buat teman-temanku, kuat dan hebat. Kerja keras dan kreativitas untuk mention fiesta. Tidak lupa juga doa di sela-sela bekerja. Kami yang akhir-akhir ini sedang terpisah-pisah karena kesibukka...