Postingan

Kamu Menarikku ?

Untuk kamu, yang sudah beberapa minggu ini berhasil mencuri perhatianku. Kita tak pernah benar-benar dekat dan kamu tak pernah tahu bahwa diam-diam ada sosok yang sering mencuri waktu, mencuri pandang padamu ketika dosen menjelaskan, ketika kelas hening begitu serius. Kita tak bermasalah dengan jarak, tapi nyatanya apalah arti dekat ini ketika hanya diam yang bisa kita sampaikan setiap hari. Kamu selalu menunduk, dan aku selalu menatap. Bisa kamu lihat? Sepertinya hanya aku yang takut kehilangan kamu, luput dari pandanganku. Kamu berhasil mencuri sebagian diriku singgah di kamu. Memaksaku setiap hari mencuri-curi perhatian padamu, melewati jarak beberapa kursi. Aku yang selalu duduk di depan, dan kamu diam tenang di belakang. Kamu berhasil membuat ku bingung dengan diriku sendiri. Di dekatmu aku tak mengenal diriku sendiri. Ada perasaan canggung yang mengalir, menghantam dadaku bertubi-tubi membuatku sesak dan menggelitik hatiku. Aku begitu diam ketika bersamamu walau lebih sering...

Tidurlah, Sayang

malam... larutnya menunggumu lelap, memeluk nyenyak. tidurlah...pagi hangat menunggu senyummu. Jangan sampai mentari mengabaikanmu seperti yang kamu lakukan kepadaku hanya karena kamu sakit. Ketika kamu sakit, akan ada seseorang yang rela membagi dua pikirannya, memikirkan kamu dan memikirkan dirinya sendiri yang berjuang untuk masa depannya, berlagak kuat seperti elang dalam pendidikannya. Padahal banyak kekhawatirannya yang tumpah dalam keletihannya, banyak perhatiannya yang terabaikan, terbuang, tak terjamah, dan terpaksa terpendam. Tak berkutik karena jarak membunuhnya. Lalu harus bagaimana menyampaikan kekhawatiran ini, perhatian ini ? Yang bersatu bersama ketulusan ingin merawatmu, memapahmu untuk berdiri, kalau nyatanya berantakan dalam hati dan pikirannya. Hanya itu, tak terungkap. Maka dari itu, ayolah~ jaga kesehatanmu. Perempuan itu, di sini, aku tak ingin lebih dan lebih lagi melalui hari seperti orang bodoh. Ingin menjadi dokter ataupun suster tanpa pasien. Cukup jara...

Sisakan Kamu Dalam Kenangan Kita

Karena hanya dengan tulisan aku bisa bertemu denganmu, walau itu bayangan. Karena hanya tulisan yang mampu membuat kita, aku dan kamu, terperangkap dalam kenangan. Hanya aku kok, yang merasa, pasrah menerima, karena hanya dengan inilah, kamu tidak hilang, walau tak pernah utuh, walau sulit membuatnya nyata. Kamu senyata-nyatanya di sana yang tak pernah bisa aku raih, dengan tulisan inilah kamu menjadi sesuatu yang nyata yang dapat kuraih. Sesuatu yang sebenarnya tak nyata ini bahkan kamu abaikan, kamu anggap tak ada. Aku tahu kamu sedang belajar tega. Kamu berhasil. Ini menyakitkanku. Kecewa. Benar-benar fatal! Bisa-bisanya aku menjadikanmu harapan, dulu. "membiarkan masa lalu pergi agar kita bisa mendapat hal yang lebih baik"--kamu. Aku mengerti kamu sudah mengikhlaskan. Itu baik, karena ikhlas melepas belum tentu melupakan. Terlihat sekali betapa egoisnya aku. Tidak bisa menerima kamu yang sudah berhasil melepas semuanya, sedangkan di sini aku seperti orang kelaparan, ...

Kau Cantik Hari Ini

Setiap hari kamu berhasil membuatku terpana, hari ini begitu. Kamu datang terlambat, tidak lupa kamu ucapkan salam kepada kita semua. Permisi dan mencium tangan dosen begitu hormat layaknya ibumu. Baju koko. Itu yang membuatku semakin tak mengerti dengan hari-hari yang kujalani jika ada kamu. Aku memang suka dengan pria yang menggunakan baju koko, peci, sarung dan sebagainya. Menurutku itulah saat di mana inner beauty seorang pria benar-benar nyata ke permukaan. Tapi kamu, benar-benar membuatku suka! Berhasil membuktikan atas pendapat yang selama ini kupendam. Baju koko lengan pendek merah marun dengan corak di sekitar leher. Ah… kenapa bisa kamu seperti ini. Membuat perutku mendesir ketika melihat utuh ragamu. Dengan intonasi lembutmu, suaramu menjadi tambahan dalam balutan tubuhmu, dirimu yang menjadi pas, tak kurang tak lebih di mataku. Sayang, hari ini begitu cepat berlalu. Seperti waktu yang yang setuju tatapanku yang berlama-lama ke arahmu. Jum'at, tengah hari, mungkin s...

Suaramu

Tidak usah ragu. Padahal dari awalnya, kamu telah sadar,  lampiaskan saja kekesalanmu itu. Di depanku. Daripada harus menghilang, menghindar kejam, membuat aku mencari-cari. Dari apa yang kulihat, perhatianku yang masih berhasil kamu curi, kamu sudah tinggalkan semua. Sampai lupa mengajariku agar bisa secepat kamu, melupakan, meninggalkan semuanya yang dulu ada dan kita harap akan berlanjut. Aah, suaramu. Tiba-tiba aku teringat suaramu yang lembut, yang intonasinya bisa kau tempatkan sesuai situasi. Kamu bisa berbicara keras dengan teman-teman laki-laki mu, tapi ketika dengan wanita, begitu juga aku. Kamu bisa melemahlembutkan suaramu. Membuatnya menjadi sesuatu yang memang harus diingat bukan untuk ditinggalkan. Suaramu menjadi begitu penting untukku. Menggantikan ragamu yang tak lagi utuh, pergi menjauh dari hadapanku. Suaramu menjadi satu-satunya yang tersisa, yang hadir liar ketika kamu kurindukan. Kenangan suci yang tidak bisa aku lupakan. Kamu tau? Yang paling kuingat ke...

Perpisahan Ini Halal Untuk Kita

Bisakah kalian diam! Kalian membosankan! Kalian tidak peduli dengan perbedaan ini. Kalian mengerti, tapi kalian tak benar-benar memahami dan menerima perbedaan ini. Bahkan kalian mengunci kami dalam perpisahan. Kalian benar. Hanya saja aku belum bisa menerima ini sebagai takdir untuk kita, aku dan kamu. Perpisahan yang datang begitu saja dan pergi begitu tega membawamu. Ini salah. Cobalah untuk tidak egois wahai diriku, yang masih berharap kita utuh. Berdiri paling depan dan mengharamkan perpisahan untuk mendekati kita. Tapi nyatanya ? Perpisahan menjadi halal untuk ini semua. Perasaan ini tidak salah, hanya saja kenapa kita biarkan tumbuh pada awalnya. Kita tanam dan kita biarkan diri ini menuai kepingan durinya, begitu bodoh. Jujur, aku tak menyukai bagaimana kita berpisah. Caranya, strukturnya, prosedurnya atau apapun itu bahasa kakunya. Perpisahan ini begitu sepi. Perpisahan yang kita pasrahkan kepada waktu. Perpisahan yang datang tanpa salam dan pergi tanpa pamit. Cara in...

Penyesalan Ini Belum Usai

Andai waktu dapat diputar kembali dan kamu terlahir bersama keyakinanku. Kalau di luar  perbedaan yang kita alami harus berhenti terpaksa, keluarga dan teman, tapi tidak dengan kita. Banyak yang mendukung kita, namun justru kita yang berhenti lelah terhempas. Kita tak ingin saling menyakiti terlalu jauh. Kita sadar telah salah untuk memulai. Reaksi mereka ketika tau kita tak lagi ada. Mereka, teman-teman kita, sedih seakan ini adalah hubungan mereka. Terlihat wajah lelah mereka yang telah begitu peduli dan bahagia menyatukan kita. Kita membalas mereka dengan cara yang begini. Nanti, mereka akan sadar ini salah, semakin diteruskan, semakin kita saling menyakiti masing-masing dan semakin lama untuk menyembuhkannya. Sering terpikir, andai kita sama, andai bukan kita yang mengalami ini, mengalami perbedaan ini. Apa sekarang kita masih ada? Sebenarnya lelah terus membicarakan ini. Tapi kamu masih saja hadir dalam mimpiku, membayangiku. Kamu belum bisa pergi dari pikiranku, mungkin...